Sabtu, 28 April 2012

I’jaz Alquran

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Allah sama sekali tidak akan menelantarkan manusia, tanpa memberikan kepadanya sebersit wahyu, dari waktu ke waktu, yang membimbingnya ke jalan petunjuk sehingga merka dapat menempuh liku-liku hidup dan kehidupan ini atas dasar keterangan dan pengetahuan. Namun watak manusia yang sombong dan angkuh terkadang menolak untuk tunduk kepada manusia lain yang serupa dengannya selama manusia lain itu tidak membawa kepadanya sesuatu yang tidak disanggupinya hingga ia mengakui, tunduk dan percaya akan kemampuan manusia lain itu yang tinggi dan berada di atas kemampuannya sendiri. Oleh karena itu rasul-rasul Allah di samping diberi wahyu, juga mereka dibekali kekuatan dengan hal-hal luar biasa yang dapat menegakkan hujjah atas manusia sehingga mereka mengakui kelemahannya di hadapan hal-hal luar biasa tersebut serta tunduk dan taat kepadannya. Bila dukungan Allah kepada Rasul-rasul terdahulu berbentuk ayat-ayat kauniyah yang memukau mata, dan tidak ada jalan bagi akal untuk menentangnya, seperti mukjizat tangan dan tongkat bagi Nabi Musa, dan penyembuhan orang buta dan orang sakit sopak serta menghidupkan orang mati dengan izin Allah bagi Nabi Isa, maka mukjizat Nabi Muhammad pada masa kejayaan ilmu pengetahuan ini berbentuk mukjizat ‘aqliyah, mukjizat bersifat rasional yang berdialog dengan akal manusia dan menentangnya untuk selamanya. Mukjizat tersebut adalah Al-Qur’an dengan segala ilmu dan pengetahuan yang dikandungnya serta segala beritanya tentang masa lalu dan masa akan datang. Akal manusia betapapun majunya tidak akan sanggup menandingi Al-Qur’an karena Al-Qur’an adalah ayat kauniyah yang tiada bandingnya. Kelemahan akal yang bersifat kekurangan substantif ini merupakan pengakuan akal itu sendiri bahwa Al-Qur’an adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada Rasul-Nya dan sangat diperlakukan untuk dijadikan pedoman dan pembimbing. Demikianlah Allah telah menentukan keabadian mukjizat Islam sehingga kemampuan manusia menjadi tak berdaya menandinginya, padahal waktu yang tersedia cukup panjang dan ilmu pengetahuan pun telah maju pesat. 1.2 Rumusan Masalah 1. Apa pengertian I’jaz Al-Qur’an? 2. Apa macam-macam mukjizat? 3. Apa aspek-aspek kemu’jizatan Al-Qur’an? 4. Bagaimana contoh-contoh I’jaz Al-Qur’an? 4.1 Tujuan 1. Mahasiswa mengetahui pengertian I’jaz Al-Qur’an. 2. Mahasiswa mengetahui macam-macam mukjizat. 3. Mahasiswa mengetahui aspek-aspek kemu’jizatan Al-Qur’an. 4. Mahasiswa mengetahui contoh-contoh I’jaz Al-Qur’an.   BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengertian I’jaz Al-Qur’an Kata mukjizat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai “kejadian ajaib yang sukar dijangkau oleh kemampuan akal manusia”. Kata mukjizat terambil dari kata bahasa Arab أَعْجَزَ (a’jaza) yang berarti “melemahkan atau menjadikan tidak mampu”. Pelakunya (yang melemahkan) dinamai mu’jiz dan bila kemempuannya melemahkan pihak lain amat menonjol sehingga mampu membungkam lawan, maka ia dinamai مُعْجِزَةٌ (mu’jizat). Tambahan (ة) ta’ marbuthah pada akhir kata itu mengandung makna mubalaghah (superlatif). Al-Qur’an digunakan Nabi untuk menantang orang-orang Arab tetapi mereka tidak sanggup menghadapinya, padahal mereka sedemikian tinggi tingkat fasahah dan balagah-nya. Hal ini tiada lain karena Al-Qur’an adalah mukjizat. Rasulullah telah meminta orang Arab menandingi Al-Qur’an dalam tiga tahapan: 1) Menantang mereka dengan seluruh Al-Qur’an dalam uslub umum yang meliputi orang Arab sendiri dan orang lain, manusia dan jin, dengan tantangan yang mengalahkan kemampuan mereka secara padu melalui firman-Nya: “Katakanlah: "Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al-Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan Dia, Sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain". (Al-Isro’: 88) 2) Menantang mereka dengan sepuluh surat dari Al-Qur’an, dalam firman-Nya: “bahkan mereka mengatakan: "Muhammad telah membuat-buat Al-Qur’an itu", Katakanlah: "(Kalau demikian), Maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar". Jika mereka yang kamu seru itu tidak menerima seruanmu (ajakanmu) itu, Maka ketahuilah, Sesungguhnya Al-Qur’an itu diturunkan dengan ilmu Allah”. (Hud: 13-14) 3) Menantang mereka dengan satu surat saja dari Al-Qur’an, dalam firman-Nya: “Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang al quran yang kami wahyukan kepada hamba kami (muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al-Qur’an itu…”. (Al-Baqoroh: 23) Kelemahan orang Arab untuk menandingi Al-Qur’an padahal mereka mamiliki faktor-faktor dan potensi untuk itu, merupakan bukti tersendiri bagi kelemahan bahasa Arab di masa bahasa ini berada pada puncak keremajaan dan kejayaannya. 2.2 Macam-macam Mukjizat Secara garis besar mukjizat dapat dibagi dalam dua bagian pokok yaitu: a. Mukjizat yang bersifat material indrawi lagi tidak kekal (hissy). Mukjizat nabi-nabi terdahulu kesemuannya merupakan jenis pertama. Mukjizat mereka besifat material dan indrawi dalam arti keluarbiasaan tersebut dapat disaksikan atau dijangkau langsung lewat indra oleh masyarakat tempat Nabi tersebut menyampaikan risalahnya. Tuhan telah menjadikan kebanyakan mukjizat Bani Israil bersifat hissyi, mengingat kedunguan, ketumpulan pandangan mata hati mereka itu. Perahu Nabi Nuh yang dibuat atas petunjuk Allah sehingga mampu bertahan dalam situasi ombak dan gelombang yang demikian dahsyat, tidak terbakarnya Nabi Ibrahim dalam kobaran api yang sangat besar, tongkat Nabi Musa yang beralih wujud menjadi ular, penyembuhan yang dilakukan oleh Nabi Isa atas izin Allah, dan lain-lain. Kesemuannya bersifat material indrawi, sekaligus terbatas pada lokasi tempat Nabi tersebut berada, dan berakhir dengan wafatnya masing-masing Nabi. b. Mukjizat yang bersifat immaterial, logis, lagi dapat dibuktikan sepanjang masa (‘aqly). Mukjizat Nabi Muhammad SAW berbeda dengan mukjizat Nabi-nabi yang lain yang sifatnya bukan indrawi atau material, namun dapat dipahami oleh akal. Karena sifatnya yang demikian, maka ia tidak dibatasi oleh suatu tempat atau masa tertentu. Mukjizat Al-Qur’an dapat dijangkau oleh setiap orang yang menggunakan akalnya di mana dan kapan pun. Diantara mukjizat yang ditentukan oleh Allah untuk Muhammad adalah Al-Qur’an. Al-Qur’an itu suatu ayat hissiyah yang dapat dirasa panca indra, aqliyah yang bersifat akal, diam tiada berbicara, kekal sepanjang masa, terkembang di dalam dunia. Perbedaan ini disebabkan karena para Nabi sebelum Nabi Muhammad SAW ditugaskan untuk masyarakat dan masa tertentu. Karena itu mukjizat mereka hanya berlaku untuk masa dan masyarakat tersebut, tidak untuk sesudah mereka. Ini berbeda dengan Nabi Muhammad SAW yang diutus untuk seluruh umat manusia hingga akhir zaman, sehingga bukti kebenaran ajarannya harus selalu siap dipaparkan kepada setiap orang yang ragu di mana dan kapanpun berada. Jika demikian halnya, tentu mukjizat tersebut tidak mungkin bersifat material, karena kematerialan membatasi ruang dan waktunya. 2.3 Aspek-Aspek Kemu’jizatan Al-Qur’an Perkembangan ilmu kalam atau teologi dalam dunia islam membuat pertanyaan seputar kebenaran Allah semakin berkembang, tak terkecuali tentang Al-Qur’an. Dimulai dari perdebatan ulama’ tentang kemakhlukan Al-Qur’an lalu juga ditelaah pula tentang aspek-aspek kemukjizatan Al-Qur’an. Para Ulama’ telah menyebutkan aspek-aspek kemukjizatan lebih dari sepuluh macam, tapi kami hanya akan menguraikan secara rinci tiga aspek yang menurut kami terpenting, yaitu: A. Aspek Kebahasaan Sejarah telah menyaksikan bahwa bangsa Arab pada saat turunnya Al-Qur’an telah mencapai tingkat yang belum pernah dicapai oleh bangsa satu pun yang ada di dunia ini, baik sebelum dan sesudah mereka dalam bidang kefashihan bahasa (balaghah). Mereka juga telah meramba jalan yang belum pernah diinjak orang lain dalam kesempurnaan menyampaikan penjelasan (al-bayan), keserasian dalam menyusun kata-kata, serta kelancaran logika. Oleh karena bangsa Arab telah mencapai taraf yang begitu jauh dalam bahasa dan seni sastra, karena sebab itulah Al-Qur’an menantang mereka. Padahal mereka memiliki kemampuan bahasa yang tidak bisa dicapai orang lain seperti kemahiran dalam berpuisi, syi’ir atau prosa (natsar), memberikan penjelasan dalam langgam sastra yang tidak sampai oleh selain mereka. Namun walaupun begitu mereka tetap dalam ketidakberdayaan ketika dihadapkan dengan Al-Qur’an. Diantara contoh kata-kata yang disusun Musailamah Al-Kadzab untuk menandingi surat Al-Kautsar yaitu: إنا أعطيناك الجماهر، فصل لربك وجاهر Artinya: Sesungguhnya Kami telah memberimu banyak sekali, maka kerjakanlah sholat dan angkatlah suaramu tinggi-tinggi. Selanjutnya apabila ketidakmampuan bangsa Arab telah terbukti sedangkan mereka jago dalam bidang bahasa dan sastra, maka terbukti pulalah kemukjizatan Al-Qur’an dalam segi bahasa dan sastra, dan itu merupakan argumenatasi terhadap mereka maupun terhadap kaum-kaum selain mereka. B. Aspek Ilmiah Pemaknaan kemukjizatan Al-Qur’an dalam segi ilmiah adalah dorongan serta stimulasi Al-Qur’an kepada manusia untuk selalu berfikir keras atas dirinya sendiri dan alam semesta yang mengitarinya. Al-Qur’an memberikan ruangan sebebas-bebasnya pada pergulan pemikiran ilmu pengetahuan sebagaimana halnya tidak ditemukan pada kitab-kitab agama lainnya yang malah cenderung restriktif. Sebagaimana dijelaskan pada ayat-ayat berikut:         Artinya : “Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir”,(Al-Baqoroh 219)        Artinya : “Perhatikanlah, betapa kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran kami silih berganti agar mereka memahami(nya)”. (Al-An’am 65) Kemukjizatan Al-Qur’an secara ilmiah ini terletak pada dorongannya pada umat Islam untuk berpikir di samping membukakan bagi mereka pintu-pintu pengetahuan dan mengajak mereka memasukinya, maju di dalamnya dan menerima segala ilmu pengetahuan baru yang mantap. Di samping hal-hal di atas di dalam Al-Qur’an terdapat isyarat-isyarat ilmiah yang diungkapkan dalam konteks hidayah, di antaranya: 1. Perkawinan tumbuhan itu ada yang dzati dan ada yang khalti. Yang pertama, ialah tumbuh-tumbuhan yang bunganya telah mengandung organ jantan dan betina. Dan yang kedua ialah tumbuh-tumbuhan yang organ jantannya terpisah dari organ betina, seperti pohon kurma, sehingga perkawinannya melalui perpindahan. Dan diantara sarana pemindahnya adalah angin. Sebagaimana diterangkan dalam surat Al-Hijr ayat 22 :             Artinya: “Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan) dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya.” (QS. Al-Hijr: 22) 2. Hukum Toricelly yang ditemukan pada abad XVII M, menyatakan bahwa semakin tinggi suatu tempat, maka semakin rendah tekanan udara yang ada di tempat itu. Hukum ini diisyaratkan Al-Qur’an dalam Surat Al-An'am ayat 125 yaitu:                   •             Artinya: “Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman”. Hal ini (rasa sempit di dada), menurut Hukum Torecelly akan terjadi ketika seseorang berada pada ketinggian 12.000 feet dari permukaan laut. 3. Tentang kesatuan kosmos dan butuhnya kehidupan akan air, Allah berfirman:     •          •       Artinya: “dan Apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka Mengapakah mereka tiada juga beriman?”. Isyarat-isyarat ilmiah dan yang serupa dengannya yang terdapat dalam Al-Qur’an itu datang dalam konteks petunjuk ilahi, hidayah ilahiah. Dan akal manusia boleh mengkaji dan memikirkannya. Namun perlu difahami disini bahwa sesungguhnya hakikat Qur’ani adalah hakikat yang final, pasti dan mutlak. Sedang apa yang dicapai penyelidikan manusia, betapapun canggih alat yang dipakai, adalah hakikat yang tidak pasti. Sebab hakikat-hakikat tersebut terikat dengan aturan eksperimentasi, kondisi yang melingkupi serta peralatannya. C. Aspek Pensyari’atan Diantara hal-hal yang mencengangkan akal dan tak mungkin dicari penyebabnya selain bahwa Al-Qur’an adalah wahyu Allah, adalah terkandungnya syari’at paling ideal bagi umat manusia, undang-undang yang paling lurus bagi kehidupan, yang dibawa Al-Qur’an untuk mengatur kehidupan manusia yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Al-Qur’an disamping memberi aturan pada tiap individu, juga mengatur tata cara manusia bergaul dengan sekitarnya. Karena jika manusia dibiarkan tanpa kendali yang membatasi pergaulannya, mengatur hal ikhwal kehidupannya, menjaga hak-hak dan memelihara kehormatannya tentu urusan mereka menjadi kacau. Pemerintahan yang ditegakkan atas keadilan mutlak yang tidak dipengaruhi rasa cinta diri,cinta kerabat atau faktor-faktor sosial yang berhubungan dengan kekayaan dan kemiskinan.                                   •       Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. jika ia Kaya ataupun miskin, Maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, Maka Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui segala apa yang kamu kerjakan”. Umat manusia telah mengenal doktrin di sepanjang masa sejarah, berbagai macam doktrin, pandangan, system dan tasyri’ yang bertujuan tercapainya kebahagiaan individu di dalam masyarakat yang utama. Namun tidak satupun daripadanya yang mencapai keindahan dan kebesaran seperti yang dicapai Al-Qur’an dalam kemu’jizatan tasyri’nya. Al-Qur’an merupakan Dustur Tasyri’ paripurna yang menegakkan kehidupan manusia di atas dasar konsep yang paling utama. Dan kemukjizatan tasyri’nya ini bersama dengan kemukjizatan ilmiah dan kemukjizatan bahasanya akan senantiasa eksis untuk selamanya. Dan tidak seorang pun dapat mengingkari bahwa Al-Qur’an telah memberikan pengaruh besar yang dapat mengubah wajah sejarah dunia . 2.4 Contoh-contoh I’jaz Al-Qur’an Seperti telah dikemukakan dalam uraian tentang segi-segi kemukjizatan Al-Qur’an, beberapa contoh di antaranya adalah: a. Nada dan Langgamnya Jika anda mendengar ayat-ayat Al-Qur’an, hal pertama yang terasa di telinga adalah nada dan langgamnya. Ayat-ayat Al-Qur’an terasa dan terdengar mempunyai keunikan dalam irama dan ritmenya. Hal ini disebabkan oleh huruf dari kata-kata yang dipilih melahirkan keserasian bunyi dan kemudian kumpulan kata-kata itu melahirkan pula keserasian irama dalam rangkaian kalimat ayat-ayatnya. Bacalah misalnya Surat An-Nazi’at 1 – 14: •   •            Kemudian begitu pendengaran mulai terbiasa dengan nada dan langgam ini, Al-Qur’an mengubah nada dan langgamnya. Dengarkanlah lanjutan ayat-ayat tersebut:                      •                   Setelah itu dilanjutkannya dengan mengubah nada dan langgamnya hingga surat ini berakhir. Hasil penelitian para pakar mengatakan adanya dampak psikologis dari nada dan langgam ini terhadap pendengarnya. b. Keseimbangan Redaksi Al-Qur’an Rasyad Kholifah menyatakan bahwa ada rahasia di balik jumlah pengulangan kosa kata Al-Qur’an. Rasyad Kholifah membuktikan dengan mengulas kata basmalah yang terdiri dari 19 huruf ( بسم الله الرحمن الرحيم ). Selanjutnya dikatakan bahwa jumlah bilangan kata-kata basmalah yang terdapat dalam Al-Qur’an tersebut walaupun berbeda-beda namun keseluruhannya habis terbagi oleh angka 19. Perinciannya adalah sebagai berikut: 1) Ism (اسم) dalam Al-Qur’an sebanyak 19 kali. 2) Allah (الله) sebanyak 2698 kali yang merupakan perkalian 142 x 19. 3) Ar-Rohman (الرحمن) sebanyak 57 = 3 x 19. 4) Ar-Rohim (الرحيم) sebanyak 114 = 6 x 19. Terlepas dari panilaian terhadap pendapat Rosyad Kholifah itu, namun yang jelas Al-Qur’an sendiri telah memperkenalkan dirinya sebagai suatu Kitab yang seimbang. Surat Asy-Syuro’ 17 menyatakan bahwa:          •    “Allah-lah yang menurunkan kitab dengan (membawa) kebenaran dan (menurunkan) neraca (keadilan). dan tahukah kamu, boleh Jadi hari kiamat itu (sudah) dekat.” Secara tekstual dan konstektual ayat ini lebih tepat untuk dijadikan dasar bagi setiap penemuan ilmiah menyangkut perhitungan angka-angka dalam Al-Qur’an, walaupun demikian dinyatakan bahwa salah satu dasar perimbangan tersebut adalah angka 19 itu sendiri. c. Berita Gaib tentang Tenggelam dan Selamatnya Badan Fir’aun Dalam Al-Qur’an ditemukan sekitar 30 kali Allah SWT menguraikan kisah Musa dan Fir’aun, yaitu suatu kisah yang tidak dikenal masyarakat ketika itu kecuali melalui Kitab Perjanjian Lama. Tetapi satu hal yang menakjubkan adalah bahwa Nabi Muhammad SAW melalui Al-Qur’an telah mengungkap suatu rincian yang sama sekali tidak diungkap oleh satu Kitab pun sebelumnya, bahkan tidak diketahui kecuali yang hidup pada masa terjadinya peristiwa tersebut, yaitu pada abad ke-12 SM atau sekitar 3.200 tahun yang lalu. Mari kita dengarkan Al-Qur’an dalam mengungkapkan sekelumit kisah tentang Fir’aun:         •   ••     “Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan Sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan kami”. Memang, orang mengetahui bahwa Fir’aun tenggelam di Laut Merah ketika mengejar Nabi Musa dan kaumnya, tetapi menyangkut keselamatan badannya dan menjadi pelajaran bagi generasi sesudahnya merupakan satu hal yang tidak diketahui siapa pun pada masa Nabi Muhammad bahkan tidak disinggung oleh Perjanjian Lama dan Baru. Namun pada 1896 purbakala Loret, menemukan jenazah tokoh tersebut dalam bentuk mumi di Wadi Al-Muluk (Lembah Para Raja) berada di daerah Thaba, Luxor, di seberang Sungai Nil,Mesir. Kemudian pada 8 Juli 1907, Elliot Smith membuka pembalut-pembalut mumi itu dan ternyata badan Fir’aun tersebut masih dalam keadaan utuh. Pada Juni 1975, ahli bedah Prancis, Maurice Bucaille, mendapat izin untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang mumi tersebut dan menemukan bahwa Fir’aun meninggal di laut. Ini terbukti dari bekas-bekas garam yang memenuhi sekujur tubuhnya. d. Berita Gaib pada Masa Datang yang Terbukti Pada abad kelima dan keenam Masehi terdapat dua adikuasa, Romawi yang beragam Kristen dan Persia yang menyembah api. Sejarahwan memberi informasi bahwa pada 614 M. terjadi peperangan antara kedua adikuasa itu yang berakhir dengan kekalahan Romawi. Kekesalan kaum Muslimin akibat kekalahan tersebut ditambah dengan ejekan dari kaum Musyrikin Makkah. Maka turunlah Al-Qur’an Surat Ar-Ruum ayat 1 – 5 pada tahun kekalahan itu untuk menghibur kaum Muslimin:                                         Artinya: (1) Alif laam Miim (2) telah dikalahkan bangsa Rumawi (3) di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang (4) dalam beberapa tahun lagi. Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang), dan di hari (kemenangan bangsa Rumawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, (5) karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. dan Dialah Maha Perkasa lagi Penyayang. Perlu diingat sekali lagi bahwa berita disampaikan pada saat kekalahan sedang menimpa Romawi. Menetapkan angka pasti bagi kemenangan suatu Negara saat kekalahannya adalah suatu hal yang tidak mungkin disampaikan kecuali oleh Allah yang Maha Mengetahui. Tetapi ternyata bahwa pemberitahuan tersebut benar adanya. Karena sejarah menginformasikan bahwa tujuh tahun setelah kekalahan Romawi, tepatnya pada 622 M. terjadi lagi peperangan antara kedua adikuasa tersebut, dan kali ini pemenangnya adalah Romawi. Tujuh tahun sebelum terjadinya peristiwa-peristiwa itu, Nabi Muhammad SAW. telah mengetahui dan menyampaikannya. Dari mana beliau memperoleh sumber berita itu? Kalau bukan dari Allah yang Maha Tahu, maka dari siapa lagi? Maha benar Allah dalam segala firman-Nya. BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Kitab suci Al-Qur’an ini tidak tidak terhenti keajaibannya, adalah satu lukisan yang benar karena kalimat-kalimatnya sedemikian padat dan sarat makna, sehingga apa yang dihidangkannya dapat selalu segar dan baru. Betapa seluruh kandungan dan keistimewaan Al-Qur’an dapat dihidangkan sedangkan kemampuan manusia sangat terbatas, dan keberadaannya di pentas bumi ini terikat oleh waktu. Di samping itu kecenderungan para pengamat dan pembahasnya pun berbeda-beda. Itu sebabnya sangat boleh jadi seseorang dapat mengungkapkan kaistimewaan yang tidak dilihat oleh orang lain, akibat perbedaan posisi pandang atau kecenderungannya. Bahkan kalaupun sama, maka ketajaman analisis mereka malahirkan pula perbedaan. Di sisi lain perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mengungkap hakikat-hakikat baru, sehingga pakar masa kini dapat menonjolkan dari Al-Qur’an sekian keistimewaan yang tidak diketahui oleh pakar masa lampau, karena yang lalu tidak menjangkau perkembangan yang baru ini. Demikian, sungguh tepat ilustrasi yang menyatakan bahwa Al-Qur’an bagaikan intan yang memancarkan berbagai cahaya, cahaya yang dipandang pada posisi tertentu berbeda dengan cahaya yang dipancarkan pada posisi yang lain. Bahkan dapat berbeda dan beragam akibat keanekaragaman yang memandang, namun kesemuanya dapat dinilai benar dan jitu. Dari sinilah kita harus mengakui bahwa kemukjizatan dan keistimewaan Al-Qur’an yang dipaparkan oleh siapa pun dan kapan pun belum mencerminkan keseluruhan mukjizat dan keistimewaannya. Bahkan tidak mungkin mencakup seluruh keistimewaan kitab suci ini, dan karena itu “keajaibannya tidak akan berakhir dan tidak pernah pula ia akan usang, sebanyak apa pun uraian dan diskusi dilakukan terhadapnya”.   DAFTAR PUSTAKA Ahsiddieqy, M. Hasbi. 1953. Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an/ Tafsir. Jakarta: PT Bulan Bintang. Al-Qattan, Manna’ Khalil. 2009. Study Ilmu-ilmu Qur’an. Bogor: Pustaka Litera Antarnusa. As Shouwy, Ahmad [et. al]. 1997. Mukjizat Al-Qur’an dan As-Sunnah tentang IPTEK. Jakarta: Gema Insani Press. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1988. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Gani, A. Bustami., Umam, Chatibul. 1994. Beberapa Aspek Ilmiah Tentang Qur’an. Bogor: PT Pustaka Litera Antarnusa. Shihab, M. Quraish. 2006. Mukjizat Al-Qur’an Ditinjau dari Aspek Kebahasaan, Isyarat Ilmiah, dan Pemberitaan Gaib. Bandung: PT Mizan Pustaka.

Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar