Jumat, 13 April 2012

Maharah Kitabah dalam proses pembelajaran bahasa Arab

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Maharah Kitabah dalam proses pembelajaran bahasa Arab merupakan salah satu instrumen penting terlaksananya proses pembelajaran bahasa Arab yang sesuai dengan tujuan pendidikan. Hal ini terjadi karena Maharah Kitabah merupakan rencana pendidikan yang akan diberikan kepada peserta didik. Oleh karena itu, posisi Maharah Kitabahmenjadi sangat penting dan tidak dapat dihilangkan dalam konteks peningkatan kualitas bahasa Arab dalam suatu lembaga pendidikan. Maharah Kitabah merupakan komponen penting dalam pembelajaran bahasa Arab, ia adalah salah satu dari empat keterampilan bahasa yakni Maharah Istima’, Maharah Kalam, Maharah Qiro’ah, dan maharah kitabah. Dan untuk mencapai tujuan pembelajaran bahasa Arab khususnya pada pembelajaran Maharah Kitabah ini, kita harus mengetahui metode-metode pembelajaran Maharah Kitabah ini dengan baik. Di samping itu kita juga harus mengetahui kondisi dan potensi daerah satuan pendidikan dan peserta didik, serta mengetahui tingkat kemampuan siswa. Oleh sebab itu, makalah ini disusun untuk mempermudah bagi kita calon-calon guru pada masa sekarang dan pada masa yang akan datang dalam mengembangkan pembelajaran bahasa arab, lebih khusus lagi dalam pembelajaran maharah kitabah. 1.2 Rumusan Masalah Adapun untuk membatasi pembahasan ini kami buat beberapa rumusan masalah sebagai berikut: 1. Bagaimana strategi pembelajaran Maharah Kitabah (pada tingkat dasar, menengah dan tingkat lanjut)? 2. Bagaimana proses pembelajaran kitabah? BAB II PEMBAHASAN 2.1 Strategi Pembelajaran Kitabah Diantara keterampilan-keterampilan berbahasa, keterampilan menulis adalah keterampilan tertinggi dari empat keterampilan berbahasa. Menulis merupakan salah satu sarana berkomunikasi dengan bahasa antara orang dengan orang lain yang tidak terbatas oleh tempat dan waktu. Seperti kita ketahui bahwasanya pembelajaran kitabah dalam bahasa Arab terpusat pada tiga hal, yaitu kemampuan menulis dengan tulisan yang benar, Memperbaiki khath, dan Kemampuan mengungkapkan pikiran secara jelas dan detail. Tiga komponen ini dalam pembelajaran kitabah tidak bisa dipisahkan, karena satu dengan yang lainnya saling berkaitan. Adapun strategi pembelajaran kitabah pada tingkat pemula (mubtadi’) yaitu di mulai dengan menyalin satuan-satuan bahasa yang sederhana, setelah itu siswa diarahkan untuk belajar menulis satuan bahasa yang sederhana serta pernyataan-pernyataan sederhana. Setelah semua langkah-langkah tadi dilaksanakan dengan baik, maka siswa diarahkan untuk membuat paragraf pendek dan sederhana untuk melatih kemampuan menulis sisiwa dalam bahasa Arab. Sedangkan strategi pembelajaran kitabah pada tingkat menengah (mutawasit) yaitu siswa diajak untuk menulis pernyataan-pernyataan serta membuatnya dalam sebuah paragraf, kemudian dikembangkan lagi menjadi sebuah karangan pendek. Strategi pembelajaran kitabah pada tingkat lanjut (mutaqodim) tentunya memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi lagi yaitu di awali dengan membuat paragraf yang diwujudkan dengan membuat berbagai jenis karangan. Selain itu siswa juga diarahkan untuk belajar membuat berbagai jenis surat dan laporan. Adapun hal-hal yang berkaitan dengan strategi pembelajaran kitabah, adalah sebagai berikut : a. Memperjelas materi yang dipelajari siswa. b. Memberitahukan tujuan pembelajaran kepada siswa. c. Mulai mengajarkan menulis dengan waktu yang cukup. d. Asas bertahap, dari yang sederhana berlanjut ke yang rumit, contoh pelajaran dimulai dengan:  Menyalin huruf  Menyalin kata  Menulis kalimat sederhana  Menulis sebagian kalimat yang ada dalam teks atau percakapan  Menulis jawaban atas pertanyaan-pertanyaan  Imla  Mengarang terarah  Mengarang bebas e. Kebebasan menulis. f. Pembelajaran khath. g. Pembeljaran imla. 2.2 Proses Pembelajaran Kitabah Dalam pembelajaran kitabah, proses pembelajarannya bisa dimulai dengan pembelajaran imla sampai dengan ta’bir. A. Pembelajaran Imla’ Dalam pembelajaran imla’ dibagi menjadi tiga tingkatan, diantaranya : 1. Imla’ manqul Tingkat pertama ini bertujuan untuk memperbaiki kemampuan siswa dalam menulis huruf dan kata bahasa arab. Tahap ini penting untuk diperhatikan daam pembelajaran Bahasa Arab karena ada beberapa sebab yang timbul dari aturan penulisan Bahasa Arab. Adapun sebab-sebab yang timbul dari aturan penulisan Bahasa Arab antara lain sebagai berikut:  Kesulitan menulis dari arah kanan ke kiri bagi pembelajar yang sudah terbiasa menulis dari arah kiri ke kanan atau dari atas ke bawah.  Perbedaan huruf-huruf Arab dengan huruf latin yang banyak digunakan dalam kebanyakan bahasa.  Perbedaan bentuk huruf bahasa Arab karena perbedaan letaknya, di awal kata, di tengah atau di akhir kata.  Perbedaan bentuk huruf karena perbedaan jenis khatnya, apakah dengan khot nashi atau khot riq’i.  Sebagian huruf terucap dan tertulis dan sebagian yang lain hanya terucap saja tidak tertulis.  Terdapat ciri khusus kebahasaan seperti tanwin, tadh’if, ta’ marbuthah dan ta’ maftuhah.  Pemberian titik juga harus mendapatkan perhatian dan kemampuan untuk membedakan. Pada tingkat ini juga diikuti latihan-latihan tarkib, qawaid yang juga dipelajari kalam dan qiraah. Latihan yang bisa digunakan pada tingkat ini adalah: 1. Memberikan pertanyaan yang jawabannya diambil dari teks. 2. Memberikan beberapa kata yang tidak urut dan meminta siswa untuk mengurutkan sehingga menjadi kalimat sempurna. 3. Menyalin teks pendek yang isinya berhubungan dan menyenangkan siswa. 4. Latihan merubah kalimat (jumlah). 2. Imla’ Mandhur Imla’ ini kelanjutan dari imla’ manqul yang mana guru bisa memberikan latihan sebagai berikut:  Siswa menyiapkan teks yang ditentukan oleh guru untuk dijadikan tema imla’, siswa membaca teks di rumah, kemudian ketika di kelas didiskusikan dengan guru secara tertulis di papan tulis dan mengeluarkan kata-kata yang sulit membacanya selanjutnya guru menjelaskan cara penulisannya.  Guru meminta siswa untuk menghafal teks pendek dan sederhana kemudian mengeja kata-katanya. Setelah itu siswa diminta untuk menulisnya dan diperbolehkan melihat teks sekiranya dibutuhkan.  Meminta siswa menulis sebagian kalimat atau jumlah yang telah dipelajari, dibaca, dan ditulis dalam imla’ manqul tanpa melihat kembali pada buku. Kemudian membandingkan tulisan yang ditulis dalam imla’ mandhur dengan tulisan pada imla’ manqul dari segi kebenaran.  Mengemukakan satu atau dua paragraph yang pernah dibaca siswa kemudian dibuang sebagian kata-kata kuncinya.  Memberikan pertanyaan yang jawabannya berupa satu kalimat atau dua kalimat yang telah dihafal siswa, kemudian siswa diminta untuk menuliskan jawabannya tersebut.  Mengeluarkan kata-kata sulit dari teks imla’ dan menuliskannya di papan tulis, kemudian siswa menulisnya beberpa kali pada bukunya. 3. Imla’ Ikhtibary Imla’ Ikhtibari membutuhkan tiga kemampuan, yaitu kemampuan mendengar, kemampuan menghafal apa yang didengar, dan kemampuan menulis apa yang didengar sekaligus dalam waktu yang sama. Imla’ ikhtibari bertujuan untuk: 1). Memperkuat hubungan antara suara dan rumus yang telah dipelajari siswa ketika membaca. 2). Mengevaluasi perkembangan dan kemajuan ingatan terhadap yang didengar siswa. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam imla’ ikhtibari adalah: • Guru membaca teks dengan kecepatan sedang • Mendiktekan teks dengan kecepatan yang rata, karena ketika sangat lambat kata perkata bisa merusak tujuan imla’ • Guru berusaha unutk membuat penggalan-penggalan kalimat yang bermakana dalam mendiktenya • Guru mengucapkan satu penggalan satu kali dan siswa menulisnya, kemudian guru mengulangi sekali lagi agar siswa bisa mengulangi apa yang telah dituls dan bisa mengoreksinya • Guru tidak mengabulkan permintaan siswa untuk mengulangi di tengah-tengah mendikte • Sambil mendikte hendaknya guru memperhatikan siswa satu persatu dengan sungguh-sungguh • Setelah mendiktekan semua guru bisa memberi waktu sebentar kepada siswa untuk mengulangi dan mengoreksi kebenaran tulisan • Bagi siswa yang tidak menemui kesulitan dalam istima’ dan menulis bisa diberi latihan yang lebih sulit agar tidak jenuh dan tetap termotivasi untuk belajar B. Pembelajaran Ta’bir Pembelajaran ta’bir terbagi menjadi dua tingkatan sesuai dengan tingkat kebahasaan siswa, yaitu: 1. Ta’bir Muwajjah (terbimbing) Pada tingkat ini siswa diberi kebabasan untuk memilih kata-kata, tarkib, dan bentuk kebahasaan dalam latihan menulis tetapi tidak diperbolehkan meulis ta’bir di atas tingkatan kebahasaannya. Siswa mulai menulis satu paragrap atau dua paragrap seputar apa yang mereka telah dengar dan mereka baca, seiring dengan bertambahnya kemampuan mereka dalam seni dan gaya menulis, mereka siap untuk melanjutkan pada tingkat berikutnya tingkatan ta’bir bebas yaitu menulis tema-tema karangan dengan mengungkapkan maksud dan pikiran-pikirannya dengan bahasa arab. Oleh sebab itu pembeljaran pada tingkat ini harus bertahap dimulai dari menulis sederhana dengan menulis satu kalimat kemudian berkembang beberapa kalimat kemudian berlanjut menjadi satu paragrap dan seterusnya. Beberapa latihan yang bisa digunakan untuk pembelajaran pada tingkat ini adalah: a. Latihan menyempurnakan kalimat. Pada latihan ini bisa saja siswa menyempurnakan kalimat berbeda dengan siswa yang lain dan semuanya bisa benar. b. Latihan menganalisis yaitu dengan mengganti bagian kalimat dengan ungkapan-ungkapan yang bisa memberi makna lain pada kalimat. Ini memeberi kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan berbagai makna dalam satu kalimat. c. Siswa diberi kalimat pendek dan sederhana kemudian diminta untuk memanjangkan atau menambah dengan kat-kat baru. d. Mengajukan beberapa kata yang tidak boleh diulang untuk membentuk kalimat tetapi harus ditambah dengan satu kata atau dua kata sehingga menjadi kalimat sempurna. e. Menampilkan kalimat-kalimat dan diubah salah satu katanya sehingga menuntut untuk mengubah kata yang lain. 2. Ta’bir Hurr (menulis bebas) Pada tingkat ini siswa diberi kebebasan untuk memilih tema, mengembangkan pikiran-pikirannnya, pengguanaa mufradat atau tarkib dalam tulisannya, akan tetapi bukan berarti siswa lepas dari bimbingan dan bantuan guru. Pada tingkat ini pembelajaran dimulai dimulai dengan pemilihan tema yang sesuai dengan tingkat kebahasaan siswa dari sisi kosakata, tarkib, dan penggunaan kaidah-kaidah bahasa. Tema yang digunakan seputar teks-teks bacaan pada buku pelajaran , tetapi kemudian diperluas dengan pengalaman atau pikiran-pikiran yang bisa membawa pikiran siswa pada hal-hal yang berhubungan dengan teks. BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Diantara keterampilan-keterampilan berbahasa, yaitu keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, ketrampilan membaca dan kemampuan menulis. Dan sedangkan keterampilan menulis adalah keterampilan tertinggi dari empat keterampilan berbahasa tersebut diatas. Adapun strategi pembelajaran kitabah dari berbagai tingkat adalah sebagai berikut : 1. Tingkat Pemula (mubtadi’) a. Menyalin satuan-satuan bahasa yang sederhana b. Menulis satuan bahasa yang sederhana c. Menulis pernyataan dan pertanyaan yang sederhana d. Menulis paragraf pendek 2. Tingkat Menengah (mutawassith) a. Menulis pernyataan dan pertanyaan b. Menulis paragraf c. Menulis karangan pendek 3. Tingkat Atas (mutaqoddim) a. Menulis paragraf b. Menulis surat c. Menulis berbagai jenis karangan d. Menulis laporan Dalam pembelajaran imla’ dibagi menjadi tiga tingkatan, diantaranya : a. Imla’ manqul b. Imla’ mandur c. Imla’ ikhtibary Dalam pembelajaran Ta’bir dibagi menjadi dua macam : a. Ta’bir Muwajjah (terbimbing) b. Ta’bir Hurr (menulis bebas) Daftar Pustaka Iskandarwassid. 2009. Strategi Pembelajaran Bahasa. Bandung: Rosdakarya. Ahmad Fuad Effendi. 2009. Metodologi Pengajaran Bahasa Arab. Malang; Misykat. M. Abdul Hamid dkk, 2008. Pembelajaran Bahasa Arab. Malang: UIN Malang press. Mahmud Kamil. 2003. تدريس اللغة العربية لغير الناطقين بهاطرائق . Mathba’atul Ma’arif al-Jadidah. Abdul Adzim. 2002. Teknologi, dan Pengembangan Pembelajaran. Qohiroh.

Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar