Sabtu, 28 April 2012

Nasikh dan Mansukh dalam Alquran

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Ilmu nasikh dan mansukh ini adalah Ilmu nasakhi yaitu ilmu yangmembahas ihwal penasakhan (penghapusan dan penggantian) sesuatu peraturan hukum Al-Qur’an. Dan hampir semua ulama’ menamakannya dengan ilmu nasikh dan mansukh. Dalam studi Quran banyak kajian mengenai penafsiran Al-Quran, Muhkam Mutasyabih, serta ada juga nasikh dan mansukh. Dalam makalah ini kami akan menjelaskan tentang pengertian nasikh mansukh, syarat-syaratnya nasakh, cara mengetahui nasakh, pembagian nasakh dan hikmah adanya nasakh. Dengan pemaparan makalah ini semoga dapat menambah pengetahuan dan pemahaman untuk kita. Sehingga dapat mempermudah kita dalam mengkaji al-Quran. 1.2. Rumusan Masalah 1. Apa pengertian nasikh dan mansukh ? 2. Apa syarat-syarat nasakh ? 3. Bagaimana cara mengetahui nasakh ? 4. Apa saja macam-macam nasakh ? 5. Apa hikmah dari nasakh ?   BAB II PEMBAHASAN 2.1. Pengertian Nasakh, Nasikh dan Mansukh Secara umum maqasyid al-attasyri’ adalah kemaslahatan manusia. Maka dalam pembentukan kemaslahatan manusia tidak dapat di elakkan adanya nasakh mansukh terhadap beberapa hukum terdahulu dan dig anti dengan hukum yang sesuai dengan tuntutan realitas zaman, waktu dan kemaslahatan manusia. Proses ini disebut nasaikh mansukh. Belum ada kesepakatan di antara para ulama’ mengenai pengertian nasakh ,baik menurut bahasa atau istilah . Menurut bahasa kata nasakh mempunyai 4 arti yaitu : a. Menghapus atau meniadakan (Al izalah wal I’dam), yakni kata nasakh itu berarti menghapuskan sesuatu atau menghilangkannya. Dalam al-qur’an ada contoh kata nasakh, yaitu :               •               Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang Rasulpun dan tidak (pula) seorang Nabi, melainkanapabila ia mempunyai sesuatu keinginan, syaitanpun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat- nya. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana, (Q.S.Al-Haj :52) b. Memindahkan sesuatu yang tetap sama (At-Tahwilu ma’a baqaa’ihi fi nafsihi) c. Menyalin /mengutip, yakni nasakh diartikan dengan menyalin atau mengutip tulisan dari satu buku ke dalam buku lain, dengan tetap adanya persamaan antara slainan/kutipan. Contoh dalam Al-Qur’an yaitu :        •      (Allah berfirman): "Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan terhadapmu dengan benar. Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan". (Q.S.Al-Jatsiyah :29) d. Mengubah dan membatalkan sesuatu dengan menempatkan sesuatu yang lain sebagai gantinya, yakni nasakh itu diartikan dengan mengubah sesuatu ketentuan /hukum yang ada diganti dengan hukum baru yang lainnya. Conto h ayat al-qur’an yaitu ;                •       ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. tidakkah kamu mengetahui bahwa Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu? (Q.S.Al-Baqarah : 106) Nasakh secara terminologi ada 2 pendapat , yaitu ; 1. Mutaqaddimin Nasakh yaitu mengangkat hukum syar’i (menghapuskan) hukumsyara’ dengan dalil hukum kitab syara’ yang lain. Misalnya, dikeluarkannya hukum syar’i dengan dengan berdasarkan kitab syara’ dari seseorang karena dia mati atau gila. Contoh : tentang waris dimana hukum waris di nasakhkan oleh hukum wasiat ibu bapak dan karib kerabat.           … Allah mensyari'atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu : bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan (An-Nisa’ : 11) Ayat tersebut di naskhkan oleh surat Al-baqarah : 180, yaitu :         •          diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, Berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma'ruf (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa. Dengan demikian tampak dengan gamblang bahwa ulama’ mutaqaddimin memberikan batasan pengertian bahwa nasakh adalah sebagai dalil syar’I yang ditetapkan kemudian. Jadi tidak hanya bagi ketentuan hukum yang mencabut dan membatalkan hukum yang sudah berlaku sebelumnya. Pengertian nasakh menurut kelompok ini mencakup pengertian pembatasan (qayyad) terhadap pengertian bebbas (muallaq), pengkhususan terhadap yang umum , pengecualian , syarat, dan sifat. Ini berlaku mulai abad ke-1 sampai abad ke-3 Hijriah. 2. Mutaakhirin Pengertian yang begitu luas kemudian dipersempit oleh ulama’ yang datang kemudian. Menurut ulama’ mutakhirin pengertian nasakh sebagaimana diungkapkan Quraish sihab :”nasikh terbatas pada ketentuan hukum yang datang kemudian, guna membatalkan, mencabut atau menyatakan berakhirnya pemberlakuan hukum yang terdahulu , hingga ketentuan hukum yang ada yang ditetapkan terakhir. Sedangkan pengertian nasikh sendiri yakni nasikh berarti sesuatu yang menghapuskan, menghiangkan atau memindahkan atau yang mengutip/menyalin serta mengubah dan mengganti. Jadi hampir sama dengan pengertian nasakh menurut bahasa seperti yang telah disebut di atas. Kemudian pengertiaan nasikh menurut istilah ada 2, yaitu : a). Nasikh ialah hukum/dalil syara’ yang menghapuskan/ mengubah hukum terdahulu dan menggantinya dengan ketentuan hukum baru yang di bawahnya. Contohnya ayat al-quran surat al-mujadaah :12 yang di nasikh dengan surat al-mujadalah ayat 13, yakni mengenai kewajiban bersedekah .                     •     Hai orang-orang beriman, apabila kamu Mengadakan pembicaraan khusus dengan Rasul hendaklah kamu mengeluarkan sedekah (kepada orang miskin) sebelum pembicaraan itu. yang demikian itu lebih baik bagimu dan lebih bersih; jika kamu tidak memperoleh (yang akan disedekahkan) Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al-Mujadalah : 12)                  •          Apakah kamu takut akan (menjadi miskin) karena kamu memberikan sedekah sebelum Mengadakan pembicaraan dengan Rasul? Maka jika kamu tiada memperbuatnya dan Allah telah memberi taubat kepadamu Maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya; dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS.Al-Mujadalah : 13) 'b). Nasikh ialah Allah SWT. Artinya bahwa sebenarnya yang menghapus dan menggantikan hukum-hukum syara’ itu pada hakikatnya ialah Allah SWT. Tidak ada yang lain. Sebab hukum syara’ itu dari Allah. Hal ini sesuai dengan keterangan al-Qur’an:                      •      Katakanlah: "Sesungguhnya aku berada di atas hujjah yang nyata (Al Quran) dari Tuhanku, sedang kamu mendustakannya. tidak ada padaku apa (azab) yang kamu minta supaya disegerakan kedatangannya. menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia pemberi keputusan yang paling baik". (QS. Al-An’am : 57). Selanjutnya pengertian mansukhyakni menurut bahsa berarti sesuatu yang di hapus /dihilangkan /dipindah atau disalin/ di nukil. Sedangkan menurut istilah para ulama’ , mansukh ialah hukum syara’ yang diambil dari dalil syara’ yang pertama, yang belum diubah /dengan dibatalkan dan diganti dengan hukum dari dalil syara’ yang datang kemudian. Jelasnya dalam mansukh itu adalah berupa ketentuan hukum syara pertama yang telah diubah dan diganti dengan yang baru , karena adanya perubahan situasi dan kondisi yang menghendaki perubahan dan penggantian hukum tadi. 2.2. Syarat-syarat Nasakh Dari pengertian nasakh di atas , bahwa untuk adanya nasakh disyaratkan 3 hal, yaitu : a. Hukum yang di nasakh harus berupa hukum syara’ b. Dalil yang menghapuskan hukum syara’ itu harus berupa dalil syara’. Yang dimaksud dalil syara’ adalah Al-Quran, hadis, ijma’ dan qiyas. Hal ini sesuai dengan firman Allah yang memerintahkan taat kepada Allah, rasul-Nya dan pemimpin :                                Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS.An-Nisa’ : 59) c. Adanya dalil baru yang menghapus itu harrus setelah ada tenggang waktu dari dalil hukum yang pertama. Maksudnya, antara dalil yang menetapkan hukum dengan dalil yang menghapuskannya itu harus telah ada tenggang waktu beberapa saat setelah dalil pertama itu datang dan berlaku, baru kemudian datang dalil baru mengubahnya dan menggantikannya. 2.3. Cara Mengetahui Nasakh Untuk mengetahui nasakh itu harus ada dua dalil syara’ yang bertentangan antara yang satu dengn yang lain secara nyata, yang tidak di kompromikan sehingga tidak ada jalan lain kecuali menentukan salah satu dalil itu sebagai nasikh dan yang lain sebagai mansukh. Yang menjadi maslah dalil apa yang dipakai untuk menentukan bahwa salah satunya sebagai ansikh dan yang lain sebagai mansukh ? dalam hal ini tidak boleh hanya berdasarkan selera hawa nafsu, melainkan harus ada dalil kuat dan shohih yang menetapkan bahwa salah satu dari kedua dalil itu lebih kemudian datangnya dari yang lain. Cara lain mengetahui nasakh dan mansukh yaitu : a).adanya keterangan tegas dari Nabi atau sahabat seperti arti hadis berikut: “Aku dulu pernah melarangmu berziarah kubur, sekarang Muhammad telah mendapat izin untuk menziarahi ke kubur ibunya, kini berziarahlah kamu ke kubur. Sesungguhnya ziarah kubur itu mengingatkan pada hari akhir (HR. Muslim, abu daud, dan Tirmidzi).” b). Kesepakatan umat tentang menentukan bahwa ayat ini nasakh dan ayat itu mansukh. c). mengetahui mana yang lebih dulu dan kemudian turunnya dalam perspektif sejarah. 2.4. Pembagian Nasakh Pembagian nasikh ada 4, yaitu : a. Nasakh Al-Quran dengan Al-Qur’an. Hal ini disepakati oleh ulama’ yang mengatakan adanya nasikh mansukh. b. Nasakh al-Quran dengan sunnah. Seperti nasakh Al-quran dengan hadis Ahad dan nasakh Al-Quran dengan hadis mutawatir. c. Nasakh sunnah dengan Al-quran. Hal seperti ini dibolehkan oleh jumhur ulama’, namun di tolak oleh syafi’i. Menurutnya apa yang ditetapkan sunnah tentu didukung dengan ayat Al-Quran. Ini karena antara Al-kitab dan As-sunnah harus sejalan dan tidak bertentangan. d. Nasakh sunnah dengan sunnah. Nasakh dalam Al-Qur’an ada tiga macam: ‎Pertama, nasakh bacaan dan hukum. Misalnya apa yang diriwayatkan oleh Muslim dan yang lain, dari AisyahRadhiyallahuAnha, iaberkata, “Diantara yang diturunkan kepada beliau adalah bahwa sepuluh Susuan yang diketahui itu menyebabkan pemahaman, kemudian dinasakh oleh ‘lima susuan yang diketahui’. Ketika Rasulullah wafat, ‘lima susuan’ ini termasuk ayat Al-Qur’an yang dibaca(baca: berlaku).” Ucapan Aisyah “lima Susuan ini termasuk ayat Al-Qur’ an yang dibaca” secara zhahir menunjukkan bahwa bacaannya masih tetap (ada). Tetapi tidak demikian halnya, karena ia tidak terdapat dalam Mushaf Utsmani. Kesimpulan ini dijawab, bahwa yang dimaksud dengan perkataan Aisyah tersebut ialah ketika menjelang beliau wafat. ‎Kedua, nasakh hukum, sedang tilawahnya tetap. Misalnya nasakh hokum ayat-ayat 'iddah selama satu tahun, sedang tilawahnya tetap. Mengenai nasakh macam ini banyak disusun kitab-kitab yang di dalamnya disebutkan bermacam-macam ayat. Padahal setelah diteliti, ayat-ayat seperti itu hanya sedikit jumlahnya, sebagaimana dijelaskan Al-Qadhi Abu Bakr bin Al-'Arabi. ‎Ketiga, nasakh tilawah sedang hukumnya tetap. Untuk jenis ini parau lama mengemukakan sejumlah contoh. Di antaranya adalah ayat rajam, ‎اَلشَّيْخُ وَالشَّيْخَةُإِذَا زَنَيَا فَارْجُمُوْهُمَا الْبَتَّةَ نَكَالاً مِنَ اللهِ وَاللهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ . ‎"Orang tua laki-laki dan perempuan yang berzina, maka rajamlah keduanya itu dengan pasti sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." 2.5. Hikmah Nasakh Hikmah nasakh secara umum adalah sebagai berikut : a. Untuk menunjukkan bahwa syariat agama Islam adalah syariat yang paling sempurna. Karena itu, syariat agama Islam ini menasakh semua syariat dari agama-agama sebelum Islam. Sebab, syariat Islam telah mencakup semua kebutuhan seluruh umat manusia dari segala periode. b. Selalu menjaga kemaslahatan hamba agar kebutuhan mereka senantiasa terpelihara dalam semua keadaan dan di sepanjang zaman. c. Untuk menjaga agar perkembangan hukum Islam selalu relevan dengan kondisi dan situasi umat yang mengamalkan , mulai dari yang sederhana sampai tingkat yang sempurna. d. Untuk menguji orang mukallaf, apakah dengan adanya perubahan dan penggantian dari nasakh tersebut mereka tetap taat, setia mengamalkan hukum-hukum Tuhan , atau dengan begitu mereka lalu mereka ingkar dan membangkang? e. Untuk menambah kebaikan dan pahala bagi hamba yang selalu setia mengamalkan hukum-hukum perubahan, walaupun dari yang mudah kepada yang sukar. f. Untuk memberi dispensasi dan dan keringanan bagi umat islam, sebab dalam beberapa nasakh banyak yang memperingan beban dan memudahkan pengamalan guna menikmati kebijaksanaan dan kemurahan Allah SWT yang Maha pengasih lagi Maha penyayang. BAB III KESIMPULAN Dari penjelasan-penjelasan di atas dapat kita ambil beberapa kesimpulan sebagai berikut: 1. Menurut bahasa kata nasakh mempunyai 4 arti yaitu : Menghapus atau meniadakan, Memindahkan sesuatu yang tetap sama, Menyalin /mengutip, Mengubah dan membatalkan sesuatu. 2. Syarat-syarat Nasakh, yaitu : Hukum yang di nasakh harus berupa hukum syara’ , Dalil yang menghapuskan hukum syara’ itu harus berupa dalil syara’, Adanya dalil baru yang menghapus itu harrus setelah ada tenggang waktu dari dalil hukum yang pertama. 3. Cara Mengetahui Nasakh, yaitu : harus ada dua dalil syara’ yang bertentangan antara yang satu dengan yang lain secara nyata, 4. Pembagian nasikh ada 4, yaitu : Nasakh Al-Quran dengan Al-Qur’an, Nasakh al-Quran dengan sunnah, Nasakh sunnah dengan Al-quran, Nasakh sunnah dengan sunnah. 5. Hikmah nasakh, yaitu : Untuk menunjukkan bahwa syariat agama Islam adalah syariat yang paling sempurna , Untuk menjaga agar perkembangan hukum Islam selalu relevan dengan kondisi dan situasi, dll.   DAFTAR PUSTAKA Anwar, Abu. 2002. Ulumul Quran.Pekan baru : Amzah Jalal, Abdul. 1997. Ulumul Quran. Surabaya : Dunia Ilmu Syadah Ahmad, Rofi’i Ahmad. 2000. Ulumul Qur’an II. Bandung: CV PustakaSetia Thabat thaba’I, Allamah. 1987. Mengungkap rahasia Al-Quran. Bandung : Mizan

Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar