Sabtu, 28 April 2012

PEMBAGIAN HADIS DITINJAU DARI ASPEK KUANTITAS

PEMBAGIAN HADIS DITINJAU DARI ASPEK KUANTITAS Sebagaimana diketahui, bahwa hadis Nabi saw dapat sampai kepada kita melalui jalur periwayataan. Banyak sedikitnya perowi terkadang berpengaruh dalam menentukan kualitas sebuah hadis. Kaitannya dengan kuantitas atau sedikit banyaknya jumlah perowi, para perowi membagi hadis Nabi menjadi dua bagian: Mutawatir dan Ahad. A. Hadis Mutawatir Hadis Mutawatir adalah hadis yang diriwayatkan dari kelompok ke kelompok pada tiap tataran (thobaqoh) dengan jumlah perowi yang banyak sehingga akal menyatakan mustahil mereka sepakat untuk bohong, dan proses tersebut dapat diindera oleh panca indera. Para ulama hadis berbeda pendapat dalam menentukan jumlah yang disyaratkan. Ada yang berpendapat tiga, ada yang dua belas, empat puluh, dan sebagainya. Jumhur berpendapat, bahwa sebenarnya yang paling tepat untuk menentukan standar tersebut adalah jumlah yang tidak memungkinkan orang-orang tersebut untuk dapat sepakat bohong, jadi bukan dalam bentuk angka paten. Biasa saja jumlah angkanya berbeda-beda pada tiap tatarannya (thobaqoh). 1. Macam-macam hadis Mutawatir Hadis Mutawatir terbagi menjadi dua macam: a) Mutawatir lafdli, adalah hadis yang diriwayatkan secara mutawatir dan pada setiap riwayatnya memiliki teks dan makna yang sama. b) Mutawatir maknawi, adalah beberapa hadis yang bisa jadi riwayatnya tidak mutawatir namun jika riwayat-riwayat tersebut dikumpulkan terdapat satu makna yang sama. 2. Hukum hadis Mutawatir Hadis mutawatir mengandung makna qoth’i al tsubut, memberikan informasi yang pasti akan sumber informasi tersebut. Oleh sebab itu tidak dibenarkan seseorang mengingkari hadis mutawatir bahkan para ulama menghukumi kufur bagi orang yang mengingkari hadis mutawatir. 3. Keberadaan hadis Mutawatir Ibnu Shalah berpendapat bahwa hadis mutawatir jumlahnya tidak banyak. Pendapat ini dibantah keras oleh ibn Hajar,”orang yang mengatakan bahwa hadis mutawatir jumlahnya sedikit, berarti dia kurang serius mengkaji hadis”. Para ulama kemudian berusaha mengakurkan dua pendapat ini. Apabila yang dimaksud ibn Shalah adalah hadis mutawatir lafdli, maka pendapat itu ada benarnya, karena keberadaan hadis mutawatir lafdli realitanya memang tidak banyak. Ibnu Hajar tatkala mengatakan bahwa hadis mutawatir jumlahnya banyak, juga ada benarnya, jika yang dimaksud adalah hadis mutawatir maknawi atau mutawatir secara umum. 4. Referensi Hadis Mutawatir Ada beberapa kitab yang merangkum hadis-hadis mutawatir yang sekaligus dapat dijadikan sebagai rujukan tatkala kita hendak mencari hadis-hadis mutawatir. Di antaranya kitab Nadzmu al-Mutanatsir al-Mutawatir, karya Abu Abdullah Muhammad bin Jakfar al-Kitabi. B. Hadis Ahad Yang dimaksud hadis ahad adalah hadis yang diriwayatkan oleh beberapa perowi yang jumlahnya tidak mencapai batas hadis mutawatir. 1. Macam-macam Hadis Ahad Melihat dari jumlah perowinya, hadis ahad dapat diklasifikasikan menjadi tiga: Masyhur, Aziz, dan Ghorib. a) Masyhur, adalah hadis yang diriwayatkan oleh lebih dari tiga perowi dan belum mencapai batasan mutawatir. Apabila dalam salah satu thabaqohnya (jenjang) dari thobaqoh sanad terdapat tiga perowi maka hadis tersebut dikategorikan hadis masyhur, sekalipun pada thobaqoh sebelum atau sesudahnya terdapat banyak perowi. b) Aziz, adalah hadis yang diriwayatkan oleh dua atau tiga perowi dalam salah satu thobaqohnya. Ini adalah definisi ibn Shalah dan diikuti pula oleh Imam Nawawi. Ibn Hajar lebih condong pada riwayat dua orang untuk definisi Aziz dan tiga orang untuk definisi Masyhur. c) Ghorib, adalah hadis yang hanya diriwayatkan oleh satu orang dalam salah satu thabaqohnya. Dinamakan demikian karena ia nampak menyendiri, atau jauh dari tataran masyhur apalagi mutawatir. Para ulama membagi hadis ghorib menjadi dua berdasarkan letak keterasingannya: 1) Ghorib Mutlak, dikatakan ghorib mutlak jika dalam salah satu tingkatan sanadnya hanya terdapat hanya seorang perowi yang meriwayatkan. 2) Ghorib Nisbi, yaitu hadis yang dalam sanadnya terdapat perbedaan (ciri khusus) yang membedakan dengan kondisi mayoritas sanad. Ghorib nisbi tidak berkaitan dengan jumlah perowi, namun lebih pada kondisi yang asing atau beda bila dibandingkan dengan kondisi sanad lain. Perbedaan tersebut bisa berkaitan dengan tempat atau sifat perowi. 2. Kehujjahan Hadis Ahad Hadis ahad dengan berbagai pembagiannya terkadang dapat dihukumi shahih, hasan atau dho’if, bergantung pada syarat diterimannya hadis (syurut al-qabul). Adapun kehujjahan hadisahad, jumhur ulama sepakat bahwa hadis ahad dapat dijadikan sebagai hujjah, selama hadis tersebut masuk kategori hadis maqbul, atau memenuhi syarat diterimanya hadis.

Reaksi:

1 komentar:

Poskan Komentar