Sabtu, 05 Januari 2013

SEJARAH TARI RANTAK DAN TARI INDANG

SEJARAH TARI RANTAK DAN TARI INDANG A. Tari rantak 1. Sejarah Tari Rantak Tari Rantak merupakan salah satu kesenian budaya Minangkabau, Tari rantak merupakan karya Almarhumah Gusmiati Suid. Bundo Gusmiati Suid dalam perjalanan kreatifnya, sangat sadar bahwa tampilan Minangkabau dalam tari, terletak pada penguasaan pamenan yang berdasarkan pancak(Gerakan Siatl minang/silaek tuo). Ia menekankan bahwa penguasaan bentuk-bentuk tari tradisi sebagai bahasa karya baru, semestinya diikuti dengan penguasaan pencak. Bahkan bagi Gusmiati Suid, pencak tidak hanya harus dilakukan secara teknik, tetapi juga dipahami dalam konteks filosofinya. Karena tari Minang umumnya mempunyai gaya dan teknik gerak yang identik dengan pencak silat Minangkabau, yang mana dalam pencak silat itu terdapat beberapa teknik yang harus dikuasai oleh penari Minangkabau. 2. Filosofi Tari Rantak - Tagak – Tagun Tagak (tegak) secara harfiah hanya berarti berdiri, tetapi “tagak” dalam permainan pencak silat dan juga tari dapat diartikan melakukan tarian seperti lazimnya dikatakan Mambao Tagak (melakukan tarian) sedangkan Tagun (berhenti atau merenung sejenak sebelum memulai pekerjaan) hubungan dua kata tagak tagun dimaksudkan untuk mengungkapkan kemampuan dasar atau kemampuan awal penari Minangkabau. - Ukua Jangko Ukua Jo Jangko (ukur dan jangka) adalah dua kalimat mempunyai satu makna yaitu ketepatan melakukan sesuatu sesuai dengan ketentuannya. Istilah ini dimaksudkan agar penari mampu melakukan gerak secara teknik dengan sempurna, tetapi belum terlalu menuntut kemampuan penafsiran dan pengekspresian terhadap tarian yang mereka sajikan. - Pandang Kutiko Pandang secara harfiah diartikan melihat, tapi dalam silat diartikan sebagai pemahaman, penafsiran dan persepsi terhadap sesuatu. Sedangkan Kutiko (ketika, saat) yang artinya ketepatan terhadap pemahaman, penafsiran dan persepsi pada sesuatu. Pada level ini penari dituntut mempunyai kemampuan untuk memahami tarian yang ia lakukan secara sempurna dan benar. - Garak-garik Garak (Firasat) merupakan kepekaan dan keahlian seseorang terhadap sesuatu yang sedang dan akan terjadi. Sedangkan Garik (gerak). Istilah Garak-Garik di Minangkabau diartikan kemampuan seseorang melakukan sesuatu secara teknis dan non teknis. Hal ini dimaksudkan penari pada Garak-garik dituntut mampu melaksanakan secara teknis dan juga punya kepekaan dan ketepatan rasa dan ekspresi terhadap tari yang disajikan. - Raso-Pareso Raso (rasa) Pareso (periksa, koreksi), Dalam budaya Minangkabau Raso Peraso dua kalimat yang mempunyai satu makna, yaitu menyimpulkan tentang sikap dan perbuatan berdasarkan pikiran dan perasaan. Pepatah Minang mengatakan “raso dibaok naiak pareso dibaok turun” ketika itu terjadi pembauran antara raso dan peraso (pikiran dan perasaan) B. Tari indang 1. Pengertian Tari Indang Indang adalah salah satu kesenian anak nagari Pariaman yang sudah berkembang sejak abad ke 13 seiring dengan masuknya agama Islam ke Minangkabau, pada awalnya Kesenian ini dimainkan oleh 13 orang penari plus 1 orang tukang dzikir dan syair yang berisi pujian terhadap nabi (Shalawat Nabi), Pemain memainkan alat musik tambourin mini yang disebut dengan rapai. Tari indang pada awalnya digunakan sebagi media dakwah yang biasanya dimainkan pada malam hari dan pada peringatan hari-hari besar islam serta pada acara besar lainnya sepeti penyambutan tamu, pengankatan pejabat dll. Tokoh yang memperkenalkan sekaligus pembuat gerakan tari indang Rafa’i beliau adalah salah seorang pengikut syaikh Burhanuddin seorang ulama dan tokoh penyebaran islam daerah sumatera barat, Sejarah Tari Indang Tari indang tidak seperti seni tari pada umumnya, tari Indang tidak menonjolkan gerakan tubuh yang penari dalam pertunjukannya. Karena pada dasarnya tari Indang adalah salah satu bentuk sastra lisan dan media dakwah yang dalam penyampaiaannya lebih mengedepankan permainan rebana dan dendangan syair - syair yang biasanya bernafaskan Islam.

Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar