Senin, 22 April 2013

Kekuasaan dan Kehendak Tuhan


BAB I
PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang
Di masa ini banyak sekali di kalangan masyarakat yang kurang memahami secara mendalam tentang sifat-sifat Tuhan. Karena Islam adalah agama yang luas dan banyak aliran-aliran di dalamnya, sehingga perlu banyak panjelasan yang detail tentang sifat-sifat Tuhan. Suatu kewajiban bagi setiap muslim dan muslimah untuk mengetahui tentang Tuhannya.
Di dalam agama Islam banyak berbagai aliran-aliran seperti Asy’ariah, Mu’tazilah, Maturidiah. Dan aliran ini dalam menafsiri Al-Qur’an berbeda-beda, oleh karena itu timbulah berbagai macam perbedaan pendapat di antara aliran-liran ini. Melalui makalah ini, kami akan mencoba menjelaskan tentang berbagai macam pendapat aliran-aliran tentang sifat-sifat Tuhan. Yang tujuanya tak lain adalah unutk menambah wawasan pembaca tentang sifat-sifat Tuhan menurut berbargai airan-aliran yang ada dalam agama Islam. Sehingga kita dapat mengetahui dengan benar dan detail tentang sifat-sifat Tuhan, karena sebagai orang Islam sangatlah penting untuk mengetahui hal ini.
Harapan perumus makalah ini agar pembaca dapat memahami betul tentang ajaran Islam, terutama dalam mengetahui sifat-sifat Tuhan. Dengan demikian imannya kepada Tuhan akan lebih mantap dan tidak di ragukan lagi.

1.2  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah:
1.    Bagimana memahami Kekuasaan dan Kehendak mutlak Tuhan?
2.    Bagaimana pendapat aliran-aliran dalam Islam tentang sifat-sifat Tuhan?
3.    Bagaimana pandangan aliran-aliran dalam Islam mengenai anthropomorphisme?
4.    Bagaimana pendapat aliran-aliran dalam Islam tentang melihat Tuhan?
5.    Bagaimana pandangan aliran-aliran dalam Islam tentang  sabda Tuhan?

1.3  Tujuan
Berdasarkan masalah di atas, maka ditulisnya makalah ini adalah unutk:
1.    Mengetahui Kekuasaan dan Kehendak mutlak Tuhan
2.    Mengetahui pendapat aliran-aliran dalam Islam tentang sifat-sifat Tuhan
3.    Mengetahui pandangan aliran-aliran dalam Islam mengenai anthropomorphisme
4.    Mengetahui aliran-aliran dalam Islam tentang melihat Tuhan
5.    Mengetahui aliarn-aliran dalam Islam tentang  sabda Tuhan
BAB II
PEMBAHASAN


2.1 Kekuasaan dan Kehendak Mutlak Tuhan
Sebagai akibat dari perbedaan paham yang terdapat dalam aliran-aliran teologi Islam mengenal soal kekuatan akal,fungsi wahyu dan kebebasan serta kekuasaan manusia atas kehendak dan perbuatannya, terdapat pula peerbedaan paham tentang kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan. Bagi aliran yang berpendapat bahwa akal mempunyai daya besar dan manusia bebas serta berkuasa atas kehendak dan perbuatannya, kekuasaan dan kehendak Tuhan pada hakikatnya tidak lagi bersifat mutlak semutlak-mutlaknya. Bagi aliran yang berpendapat sebaliknya, kekuasaan dan kehendak Tuhan tetap bersifat mutlak. Dengan demikian bagi kaum Asy’ariyah, Tuhan berkuasa dan berkehendak mutlak, sedangkan bagi kaum Mu’tazilah, kekuasaan dan kehendak Tuhan tidak lagi mempunyai sifat mutlak semutlak-mutlaknya.
Dalam menjelaskan kemutlakan kekuasaan dan kehendak Tuhan ini, al-Asy’ari menulis dalam Al-Ibanah bahwa Tuhan tidak tunduk kepada siapa pun. Di atas Tuhan tidak ada suatu zat lain yang dapat membuat hokum dan dapat menentukan apa yang boleh dibuat dan apa yang tidak boleh dibuat Tuhan. Tuhan bersifat absolute dalam kehendak dan kekuasan-Nya.
Al-Ghozali mengeluarkan pendapat, bahwasana Tuhan dapat berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya, dapat memberikan hokum menurut kehendak-Nya, dapat menyiksa orang yang berbuat baik jika itu dikehendaki-Nya dan dapat member upah kepada orang kafir jika yang demikian dikehendaki-Nya.
Kemutlakan kekuasaan dan kehendak Tuhan yang digambarkan di atas dapat pula dilihat dari paham kaum Asy’ariyah, bahwa Tuhan dapat meletakkan beban yang tak terpikul pada diri manusia. Dan dari keterangan al-Asy’ari sendiri, bahwa sekiranya Tuhan mewahyukan bahwa berdusta adalah baik, maka berdusta pastilah baik bukan buruk. Bagi kaum Asy’ariyah, Tuhan memang tidak terikat kepada apapun, tidak terikat kepada janji-janji, kepada norma-norma keadilan dan sebagainya.
Berlainan dengan paham kaum Asy;ariyah ini, kaum Mu’tazilah berpendapat bahwa kekuasan Tuhan sebenarnya tidak bersifat mutlak lagi. Kekuasaan mutlak Tuhan telah dibatasi oleh kebebasan yang menurut paham Mu’tazilah telah diberikan kepada manusia dalam menentukan kemauan dan perbuatan. Tuuhan tidak bisa lagi berbuat sekehendak-Nya, Tuhan telah terikat pada norma-norma keadilan yang kalau dilanggar membuat Tuhan bersifat tidak adil bahkan zalim. Kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan dibatasi lagi oleh kewajiban-kewajiban Tuhan terhadap manusia yang menurut paham Mu’tazilah memang ada. Kekuasaan mutlak itu dibatasi pula oleh hokum alam yang tidak mengalami perubahan.
Adapun menurut kaum Maturidiah golongan Bukhara, berpendapat bahwa Tuhan mempunyai kekuasaan mutlak. Menurut al-Bazdawi, Tuhan memang berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya dan menentukan segala-galanya menurut kehendak-Nya, tidak ada yang menentang atau memaksa Tuhan dan tidak ada larangan-larangan terhadap Tuhan.
Maturidiah golongan Samarknd tidaklah sekeras golongan Bukhara dalam mempertahankan kemutlakan kekuasaan Tuhan, tetapi tidak pula memberikan batasan sebanyak batasan yang diberikan Mu’tazilah bagi kekuasaan mutlak Tuhan. Batasan-batasa yang diberikan oleh golonga Samarkand ialah:
a)    Kemerdekaan dalam kemauan dan perbuatan yang menurut pendapat mereka, ada pada manusia
b)   Keadaan Tuhan menjatuhkan hukuman bukan sewenang-wenang, teteapi berdasarkan atas kenerdekaan manusia dalam mempergunakan daya yang diciptakan Tuhan dalam dirinya untuk berbuat baik atau jahat
c)    Keadaan-keadaan hukuman Tuhan pasti terjadi
Oleh karena itu, tidak perlu ditegaskan bahwa yang menetukan batasan-batasan itu bukanlah zat selain dari Tuhan, karena di atas Tuhan tidak ada suatu zat pun yang lebih berkuasa. Tuhan di atas segala-galanya. Batasan-batasan itu ditentukan oleh tuhan sendiri dan dengan kemauan-Nya sendiri pula.

2.2 Sifat-Sifat Tuhan pada Umumnya
Persoalan lain yang menjadi perdebatan di antara aliran-aliran kalam adalah masalah sifat-sifat Tuhan. Tia-tiap aliran mengaku bahwa pahamnya  dapat menyucikan dan memelihara keesaan Allah.
Perdebatan antara aliran kalam tentang sifat-sifat Allah tidak terbatas pada persoalan apakah Allah memiliki sifat atau tidak, tetapi juga pada persoalan-persoalan cabang sifat-sifat Allah, seperti anthropomorphisme, melihat Tuhan, dan sabda Tuhan.
A.      Aliran Mu’tazilah
Pertentangan paham antara kaum Mu’tazilah dengan kaum Asy’ariyah dalam masalah ini berkisar sekitar persoalan apakah Tuhan mempunyai sifat atau tidak. Jika Tuhan mempunyai sifat-sifat itu, pastilah kekal seperti halnya dengan zat Tuhan. Dan selanjutnya jika sifat-sifat itu kekal, maka yang bersifat kekal bukanlah satu, tetapi banyak. Tegasnya, kekalnya sifat-sifat akan membawa kepada paham yang banyak kekal (ta’addud al-qudama’ atau multiplicity of eternals). Dan ini selanjutnya membawa pula kepada pada paham syirik atau politheisme. Suatu hal yang tidak dapat diterima dalam teologi.
Kaum Mu’tazilah mencoba menyelasaikan persoalan ini dengan mengatakan bahwa Tuhan tidak mempunyai sifat. Definisi mereka tentang Tuhan, sebagaimana dijelaskan oleh al-Asy’ari, bersifat negative. Tuhan tidak mempunyai pengetahuan, tidak mempunyai kekuasaan, tidak mempunyai hajat dan sebagainya. Ini tidak berarti bahwa Tuhan bagi mereka tidak mengetahui, berkuasa dan sebagainya tetapi mengetahui, berkuasa dan sebagainya, bukanlah sifat dalam arti kata sebenarnya. Arti “Tuhan mengetahui” kata Abu al-Huzail, ialah Tuhan mengetahui dengan perantara pengetahuan dan pengetahuan itu adalah Tuhan itu sendiri. Dengan demikian, pengetahuan Tuhan, sebagaimana dijelaskan oleh Abu al-Huzail, adalah Tuhan sendiri, yaitu zat atau esensi Tuhan. Arti “Tuhan mengetahui dengan esensi-Nya” kata al-Jubba’i, ialah untuk mengetahui, Tuhan tidak berhajat kepada suatu sifat dalam bentuk pengetahuan atau keadan mengetahui. Abu Hasyim, sebaliknya berpendapat, bahwa arti “Tuhan mengetahui melalui esensi-Na”, ialah Tuhan mempunyai keadaan mengetahui. Tetapi sesungguhnya terdapat perbedaan paham antara pemuka-pemuka Mu’tazilah tersebut, mereka sepakat mengatakan bahwa Tuhan tidak mempunyai sifat.



B.       Aliran Asy’ariyah
Kaum Asy’ariyah membawa penyelesaian yang berlawanan dengan paham Mu’tazilah di atas. Mereka dengan tegas mengatakan bahwa Tuaha mempunyai sifat. Menurut al-Asy’ari sendiri, tidak dapat diingkari bahwa Tuhan mempunyai sifat, karena perbuatan-perbuatan-Nya, di samping menyatakan bahwa Tuhan mengetahui, menghendaki, berkuasa dan sebagainya juga mengatakan bahwa Ia mempunyai pengetahuan, kemauan dan daya.
Dan menurut al-Baghdadi, terdapat consensus di kalangan kaum Asy’ariyah bahwa daya, pengetahuan, hayat, sifat ini kata al-Ghozali, tidaklah sama bahkan lain dari esensi Tuhan, tetapi berwujud dalam esensi itu sendiri. Uraian-uraian ini juga membawa paham banyak yang kekal dan untuk mengatasinya, kaum Asy’ariyah mengaatakan bahwa sifat-sifat itu bukanlah Tuhan, tetapi tidak juga lain dari Tuhan. Karena sifat-sifat tidak lain dari Tuhan, adanya sifat-sifat tidak membawa kepada paham banyak kekal.
Kelihatanya paham kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhanlah yang mendorong kaum Asy’ariah memilih penyelesaian di atas. ”Sifat” mengandung arti tetap dan kekal, sedangkan “keadaan” mengandung arti berubah. Selenjutnya sifat mengandung arti kuat, sedangkan keadaan mengandung arti lemah. Oleh karena itu, mengatakan Tuhan tidak mempunyai sifat, tetapi hanya mempunyai keadan, tidaklah segaris dengan konsep kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan. Untuk mempertahankan kakuasaan dan kehendak mutlak Tuhan, Tuhan harus mempunyai sifat sifat yang kekal.

C.      Aliran Maturidiyah
Kaum Maturidiah golongan Bukhara, karena juga mempertahankan kekuasan mutlak Tuhan, berpendapat bahwa Tuhan mempunyai sifat-sifat. Persoalan banyak yang kekal, mereka selesaikan dengan mengatakan bahwa sifat-sifat Tuhan kekal melalui kekekalan yang terdapat dalam esensi Tuhan dan bukan melalui kekekalan sifat-sifat itu sendiri; juga dengan mengatakan bersama-sama sifat-Nya kekal, tetapi sifat-sifat itu sendiri tidaklah kekal.


Aliran Maturidiyah Bukhara berbea dengan Asy’ariyah. Sebagaimana aliran lain, Maturidiah Bukhara juga berpendapat bahwa Tuhan tidak mempunyai sifat-sifat jasmani. Ayat-ayat Al-Qur’an yang menggambarkan Tuhan mempunyai sifat-sifat jasmaniharuslah diberi takwil. Menurut al-Bazdawi, ayat yang menggambarkan Tuhan mempunhyai dua mata dan dua tangan, bukanlah Tuhan mempunyai anggota badan.
Golongan Samarkand dalam hal ini kelihatannya tidak sepaham dengan Mu’tazilah karena al-Maturidi mengatakan bahwa sifat bukanlah Tuhan tetapi juga tidak lain dari Tuhan.
Maturidiah Samarkand sependapat dengan Mu’tazilah dalam mengahadapi ayat-ayat yang member gambaran Tuhan bersifat dengan mengahadapi jasmani ini. Al-Maturidi mengatakan bahwa yang dimaksud dengan tangan, muka, dan kaki adalah kekuasaan Tuhan.
D.      Aliran Syi’ah Rafidhah
Sebagian besar tokoh Syi’ah Rafidhah menolak bahwa Allah senantiasa bersifat tahu. Mereka menilai bahwa pengetahuan itu bersifat baru, tidak qadim. Sebagian besar dari mereka berpendapat bahwa Allah tidak tahu terhadap sesuatu sebelum kemunculannya.
Sebagian dari mereka berpendapat bahwa Allah tidak bersifat tahu terhadap sesuatu sebelum Ia menghendakinya. Tatkala Ia menghendaki sesuatu, Ia pun bersifat tahu. Jika Dia tidak menghendaki, Dia tidak bersifat tahu. Makna Allah berkehendak menurut mereka adalah bahwa Allah mengeluarkan gerakan. Ketika gerakan itu muncul, Ia bersifat tahu terhadap sesuatu itu. Mereka berpendapat pula bahwa Allah tidak bersifat tahu terhadap sesuatu yang tidak ada.
Mayoritas tokoh rafidhah menyifati Tuhannya dengan perubahan. Mereka berangapan bahwa Tuhan mengalami banyak perubahan. Sebagian mereka mengatakan bahwa Allah terkadang memerintah sesuatu lalu mengubahnya. Terkadang pula Ia menghendaki melakukan sesuatu lalu mengurungkannya karena ada perubahan pada diri-Nya. Perubahan ini bukan dalam arti naskh, tetapi dalam arti bahwa pada waktu yang pertama Ia tidak tahu apa yang bakal terjadi pada waktu yang kedua.


E.       Anthropomorphisme
Karena Tuhan tidak bersifat immateri, tidaklah dapat dikatakan bahwa Tuhan tidak mempunyai sifat-sifat jasmani. Kaum Mu’tazilah yang berpegang pada kekuatan akal, menganut paham ini. Tuhan, kata ‘Abd al-Jabbar, tidak dapat mempunyai badan materi dan oleh karena itu tidak mempunyai sifat-sifat jasmani. Ayat-ayat Al-Qur’an yang menggambarkan bahwa Tuhan mempunyai sifat-sifat jasmani harus diberi interpretasi lain. Dengan demikian, kata al-‘arsy, tahta keajaan, diberi interpretasi kekuasaan, al-‘ain, mata, diartikan pengetahuan, al-wajh, muka, ialah esensi, dan al-yad, tangan, adalah kekuasaan.
Kaum Asy’ariyah juga tidak menerima anthromorphisme dalam arti bahwa Tuhan mempunyai sifat-sifat jasmani yang sama dengan sifat-sifat jasmani manusia. Sesungguhnya walaupun demikian, mereka tetap mengatakan bahwa Tuhan disebut dalam Al-Qur’an mempunyai mata, muka, tangan, dan sebagainya. Akan tetapi muka, tanga, mata dan sebagainya itu tidak sama dengan yang ada pada manusia. Meraka berpendapat bahwa kata-kata ini tidak boleh diberi interpretasi lain. Seperti kata al-Asy’ari, Tuhan mempunyai dua tangan, tetapi itu tidak boleh diartikan rahmat atau kekuasaan Tuhan. Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa Tuhan hidup dengan hayat, tetapi hayat yang tidak sama dengan hayat manusia, dan mepunyai dua tangan, tetapi tangan yang tidak sama dengan tangan manusia. Tentu timbul pertanyaan, jika tidak sama dengan yang ada pada manusia, maka bagaimana sifat tangan, mata, muka, dan sebagainya itu? Jawab al-Asy’ari: “Tuhan mempunyai mata dan tangan, yang tidak dapat diberikan gambaran atau definisi.”
Argument kaum Asy’ariyah dalam hal ini agaknya adalah sebagai berikut. Manusia adalah lemah dan akalnya tidak sanggup memberikan interpretasi jauh tentang sifat-sifat jasmani Tuhan yang tersebut dalam Al-Qur’an sedemikian rupa, sehingga meniadakan sifa-sifat tersebut. Tetapi sebaliknya, sesungguhnya akal manusia lemah, akal tidak dapat menerima bahwa Tuhan mempunyai anggota badan seperti yang disebut oleh kaum anthroporphisme. Oleh karena itu, Tuhan mempunyai sifat-sifat jasmani seperti yang disebut dalam Al-Qur’an tetapi dengan tidak diketahui bagaimana bentuknya. Al-Qur’an mengatakan bahwa Tuhan mempunyai tangan dan manusia harus menerima itu. Kalau manusia tidak dapat mengetahuinya, itu adalah karena Tuhan yang Maha Kuasa dan dapat mempunyai bahkan juga menciptakan hal-hal yang tidak diselami akal manusia yang lemah.
Kaum Maturidiah, golongan Bukhara dalam hal ini tidak sepaham denan kaum Asy’ariyah. Tangan Tuhan menurut al-Bazdawi adalah sifat dan bukan anggota badan Tuhan, yaitu sifat sama dengan sifat-sifat lain seperti pengetahuan, daya dan kemauan. Golongan Samarkand, sebagai biasanya dalam hal-hal lain, mengambil posisi Mu’tazilah. Al-Maturidi mengatakan, bahwa yang dimaksud dengan tangan, muka, mata, dan kaki adalah kekuasaan Tuhan. Tuhan tidak mempunyai badan, yang sesungguh yang tidak sama dengan badan jasmani, karena badan manusia tersusun dari substansi dan accident (jawhar dan ‘ard). Manusia berhajat pada anggota badan karena tanpa anggota badan, manusia menjadi lemah; adapun Tuhan, tanpa anggota badan, Ia tetap Maha Kuasa.

2.3 Persoalan Melihat Tuhan di Akhirat
Logika mengatakan bahwa Tuhan, karena bersifat immateri, tidak dapat dilihat dengan mata kepala. Dan inilah pendapat kaum Mu’tazilah. Sebagai argument, Abd al-Jabbar, mengatakan bahwa Tuhan tidak mengambil tempat dan dengan demikian tidak dapat dilihat, karena yang dapat dilihat hanyalah yang mengambil tempat. Dan juga kalau Tuhan dapat dilihat dengan mata kepala, tuhan akan dapat dilihat sekarang dalam alam ini juga. Dan tidak ada orang yang melihat Tuhan di alam ini.
Kaum Asy’ariyah sebaliknya, berpendapat bahwa Tuhan akan dapat dilihat oleh manusia dengan mata kepala di akhirat nanti. Paham ini sejajar dengan pendapat mereka bahwa Tuhan mempunyai sifat-sifat tajassum atau anthropomorphis. Sesungguhnya sifat-sifat itu tidak sama dengan sifat jasmani manusia yang ada dalam alam materi ini. Tuhan berkuasa mutlak dan dapat mengadakan apa saja. Sebalikmya, akal manusia lemah dan tidak selamanya sanggup memahami perbuatan dan ciptaan Tuhan. Sesungguhnya itu pun bertentangan dengan pendapat akal manusia, dapat dibuat dan diciptakan Tuhan. Melihat Tuhan yang bersifat immateri dengan mata kepala, dengan demikian tidaklah mustahil manusia akan dapat melihat Tuhan.
Argument yang dikemukakan oleh al-Asy’ari untuk memperkuat pendapat di atas adalah yang tidak dapat dilihat hanyalah yang tidak mempunyai wujud, yang mempunyai wujud pasti dapat dilihat. Tuhan berwujud dan oleh karena itu dapat dilihat. Tuhan melihat apa yang ada dan dengan emikian melihat diri-Nya juga; kalau Tuhan melihat diri-Nya, ia akan dapat membuat manusia bias melihat Tuhan.
Al-Baghdadi mengemukakan argument lain. Manusia dapat melihat accidents (al-a’arad), karena manusia dapat membedakan antara putih dan hitam dan antara bersatu dan bercerai. Maut juga dapat dilihat, yaitu dengan melihat orang mati. Kalau a’rad dapat dilihat, Tuhan juga dapat dilihat.
Kaum Maturidiah dengan kedua golongannya sepaham dalam hal ini dengan kaum Asy’ariyah. Al-Maturidi juga berpendapat bahwa Tuhan dapat dilihat karena Ia mempunyai wujud. Menurut al-Bazdawi, Tuhan dapat dilihat, juga tidak mempunyai bentuk, tidak mengambil tempat dan tidak terbatas.
Baik kaum Mu’tazilah, apalagi kaum Asy’ariyah tidak hanya memakai dalil akal, tetapi juga dalil-dalil Al-Qur’an untuk mempertahankan pendirian masing-masing.

2.4 Sabda Tuhan
Mengenai sabda Tuhan atau kalam Allah atau tegasnya Al-Qur’an, persoalannya dalam teologi ialah: kalau sabda merupakan sifat, sabda pasti kekal, tetapi sebaliknya sabda adalah tersusun dan oleh karena itu pasyi diciptakan dan tidak bisa kekal.
Kaum Mu’tazilah menyelesaikan persoalan ini dengan mengatakan bahwa sabda bukanlah sifat tetapi perbuata Tuhan. Dengan demikian Al-Qur’an bukanlah bersifat kekal tetapi bersifat baru dan diciptakan Tuhan. Argument mereka, Al-Qur’an tersusun dari bagian-bagian berupa ayat dan surat, ayat yang satu mendahului yang lain dan surat yang satu mendahului yang lain pula. Adanya pada sesuatu, sifat terdahulu dan sifat datang kemudian membuat sesuatu itu tidak bisa bersifat qadim, yaitu tidak bermula, karena yang tidak bermula tidak didahului
 oleh apapu.
Kaum Asy’ariyah berpegang teguh bahwa sabda adalah sifat, dan sebagai sifat Tuhan pastilah kekal. Untuk mengatasi persoalan bahwa yang tersusun tidak bisa bersifat kekal (qadim), mereka memberi definisi lain tentang sabda. Sabda bagi mereka adalah arti atau makna abstrak dan tidak tersusun. Sabda bukanlah apa yang tersusun dari huruf dan suara. Sabda yang tersusun disebut sabda hanya dalam arti kiasan. Sabda yang sebenarnya ialah apa yang terletak di balik yang tersusun itu. Sabda yang tersusun dari huruf dan kata-kata bukanlah sabda Tuhan.
Sabda dalam abstrak inilah yang dapat bersifat kekal dan dapat menjadi sifat Tuhan. Dan yang dimaksud dengan Al-Qur'an bukanlah apa yang tersusun dari huruf-huruf, kata-kata dan surat-surat, tetapi arti atau maknaa abstrak itu. Dalam arti inilah Al-Qur’an menjadi sabda Tuhan dan bersifat kekal. Dalam arti huruf ,kata, ayat dan surat yang ditulis atau dibaca, Al-Qur’an bersifat baru serta diciptakan. Dan bukanlah sabda Tuhan.
Kaum Maturidiah dngan kedua golongannya sependapat dengan kaum Asy’ariyah, bahwa sabda Tuhan atau Al-Qur’an adalah kekal. Kata al-Maturidi, Al-Qur’an adalah sifat kekal dari Tuhan, satu, tidak terbagi, tidak bahasa Arab, tetapi diucapkan manusiadalam ekspresi berlainan.
Menurut al-Bazdawi, apa yang tersusun dan disebut Al-Qur’an bukanlah sabda Tuhan, tetapi merupakan tanda dari sabda Tuhan. Ia disebut sabda Tuhan dalam arti kiasan.


BAB III
PENUTUP


3.1 Simpulan
Semua aliran teologi dalam Islam, baik Asy’ariah, Maturidiah, Mu’tazilah atau Syi’ah Rafidhah sama-sama mempergunakan akal dalam menyelesaikan persoalan-persoalan teolog yang timbul di kalangan umat Islam. Perbedaan yang terdapat antara aliran-aliran itu adalah perbedaan dalam derajat kekuatan yang diberikan kepada akal. Kalau Mu’tazilah berpendapat bahwa akal mempunyai daya yang kuat, sedangkan Asy’ariah berpendapat bahwa akal mempunyai daya yang lemah.
Semua aliran juga berpegang pada wahyu. Dalam hal ini perbedaan yang terdapat antara aliran-aliran itu hanyalah perbedaan dalam interpetasi mengenai teks ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadist. Perbedaan dalam interpretsi inilah yang sebenarnya menimbulkan airan-aliran yang berlainan itu.
Teolog-teolog yang yang berpendapat bahwa akal mempunyai daya yang kuat memberi interpretasi yang liberal tentang teks ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadist. Dengan demikian timbulah teolog liberal seperti yang terdapat pada Mu’tazilah. Teolog-teolog yang berpendapat bahwa akal mempunyai daya yang lemah memberikan interpretasi harfi dari teks Al-Qur’an dan Hadist. Sikap demikian menimbulkan teolog tradisional sebagaimana yang ada dalam Asy’ariah.


3.2 Saran
Dengan adanya makalah ini, kita dapat mengetahui bagaimana masalah sifat-sifat Tuhan, anthropomorphisme, melihat Tuhan, sabda Tuhan dan masalah kekuasaan serta kehendak mutlak Tuhan menurut berbagai aliran-aliran yang ada dalam agama Islam dengan berbagai hujjah atau pendapat dari masing-masing aliran.
Akan tetapi, karena setiap manusia memiliki keterbatasan dan kekurangan yang begitu banyak maka kami mengharap kritik dan saran dari semua pihak yang berkenan untuk memberikan kritikan dan saran demi kebaikan makalah ini. Sebab jalan kesempurnaan adalah dengan saling mengisi antara yang satu dengan yang lain. Seperti halnya makalah ini dengan berbagai kritik, saran dan masukan maka makalah ini akan menuju kejalan kebaikan dan kesempurnaan.

Reaksi:

2 komentar:

Poskan Komentar