Senin, 22 April 2013

Pengertian, Jenis, Cara Mengukur dan Cara Mengptimalkan Bakat


BAB 1
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang Masalah
Pada dasarnya masing-masing individu mempunyai bakat yang berbeda-beda. Belajar ataupun bekerja pada bidang yang diminati, terlebih lagi didukung dengan bakat serta talenta yang sesuai, akan membawa gairah dan memberi kenikmatan dalam mempelajari atau menjalaninya. Sayangnya sering kali remaja memilih suatu jurusan atau bidang studi karena terbawa dan ikut teman-temannya,atau memilih bidang yang lebih popular,tanpa sempat mencerna terlebih dahulu dan memahami bidang yang akan dipelajari, menjadi apa setelah selesai sekolah ataupun lebih jauh lagi mengenali bidang pekerjaan seperti apa yang biasa digelutinya sesuai dengan latar belakang pendidikannya tersebut.
Mengembangkan minat dan bakat bertujuan agar seseorang belajar atau dikemudian hari bisa bekerja dibidang yang diminatinya dan sesuai minat dan bakat yang dimilikinya sehingga mereka bisa mengembangkan kapabilitas untuk belajar serta bekerja secara optimal dengan penuh antusias.
Bakat adalah bawaan, given from God, dan bakat adalah sesuatu yang dilatih. Sebelum memahami beberapa definisi dan pendekatan bakat yang juga diungkapkan beberapa ahli, ada baiknya kita yakini satu hal: yakin dan percayalah bahwa setiap insan di muka bumi ini telah memiliki bakat berupa anugerah  dari Sang Maha Kuasa. Beberapa istilah kerap dipakai ketika berbicara bakat secara spesifik, antara lain aptitude, talent/talenta, intelligence/inteligensi/kecerdasan, gifted/giftedness, dan sebagainya.
Pada dasarnya istilah-istilah tersebut membawa makna bakat yang berkembang sesuai kebutuhan dan kepentingan. Namun sama-sama mengandung unsure bakat bawaan dan latihan. Misalnya yang dikemukakan Renzulli (1981), bakat merupakan gabungan dari tiga unsur esensial yang sama pentingnya dalam menentukan keberbakatan seseorang, yakni kecerdasan kreatifitas dan tanggung jawab.  Jadi apabila seseorang terlahir dengan suatu bakat khusus, jika dididik dan dilatih, bakat tersebut dapat berkembang dan dimanfaatkan secara optimal. Sebaliknya jika dibiarkan saja tanpa pengarahan dan penguatan, bakat itu akan mati dan tak berguna. Bakat sangat kecil sekali kemungkinannya untuk berubah. Baat itu adalah relatif tetap sepanjang waktu tertentu. Karena bakat itu relatif stabil, maka bakat-bakat itu dapat digunakan untuk membantu keberhasilan dalam bidang kependidikan dan karir.  Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa: bakat mengungkap potensi untuk mempelajari suatu aktifitas tertentu, bakat relatif berbeda, bakat relatif konstan.

1.2  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka makalah ini mempunyai rumusan masalah antara lain :
1.      Apa pengertian Bakat?
2.      Apa saja jenis-jenis bakat?
3.      Bagaimana cara mengukur bakat pada anak?
4.      Bagaimana cara mengoptimalkan bakat pada anak?
1.3  Tujuan Masalah
Makalah ini bertujuan untuk:
1.      Untuk mengetahui pengertian bakat
2.      Untuk mengetahui jenis-jenis bakat
3.      Untuk mengetahui cara mengukur bakat
4.      Untuk mengetahui cara mengoptimalkan bakat pada anak

1.4  Deskripsi Kasus
Contoh kasus ini diambil dari kasus anak berbakat dari Indonesia, yaitu seorang anak laki-laki berumur lima tahun dari keluarga sederhana, ibu berpendidikan SD dan ayah tamat SMA. Rifa’i adalah anak bungsu dari tiga bersaudara, semuanya laki-laki. Pada umur 2-3 tahun Fai menjadi buah bibir masyarakat Indonesia karena sering ditampilkan di media massa, surat kabar, majalah, televisi. Ia disebut-sebut sebagai’’anak genius’’ karena pada umur 2-3 tahun sudah hafal nama-nama menteri cabinet Indonesia,  kepala negara dan bendahara dari barbagai negara, berbagai ayat suci Al Qur’an, dan dapat dengan lancar mengucapkan teks proklamasi.
Perkembangannya, sebagaimana dikemukakan oleh orang tuanya, memang tampak maju untuk umurnya. Belum umur satu tahun ia sudah tidak mengompol, ia dapat berjalan pada umur 11 bulan dan mulai berbicara pada umur satu tahun, walaupun sampai beberapa tahun ia masih cadel dalam berbicara. Orangtuanya sering ‘’kewalahan’’ menjawab pertanyaan-pertanyaannya. Ia cepat belajar lagu-lagu dan senang dengan macam-macam kuis. Pada umur 3,5 tahun ia sudah mampu main game watch dan main catur (walaupun masih membuat banyak kesalahan), dan juga sudah dapat membaca dan menulis. Pada umur lima tahu ia sudah tampil di televisi untuk membaca puisi. Ia pun ikut dengan salah satu sanggar teater di Jakarta dan memainkan peran utama disalah satu lakon.
Dalam bermain,  karena orangtuamya tidak mampu ,membelikan macam-macam mainan untuknya, Fai dapat membuat mainannya sendiri, misalnya membuat kuda-kudaan atau kendaraan perang-perangan dari tutup botol dan bahan-bahan yang tersedia lainnya. Menurut orangtuanya, Fai tidak pernah merasa bosan, ada saja kegiatan yang ia lakukan. Ia tampak haus akan pengetahuan.
Keluaraga Fai tinggal di rumah kontrakan kecil yang terletak di gang yang penduduknya sangat padat. Luas rumahnya kurang dari 50m², terdiri dari ruang tamu yang juga dipakai untuk menggantungkan pakaian dan cucian, dan sekaligus merupakan ruang belajar. Ruang keluarga dengan satu televisi berwarna, juga tampak padat. Satu kamar tidur digunakan oleh orang tua dan tiga anak. Fasilitas belajar yang tersedia sangat terbatas.[1]






















                                                      BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Bakat
Bakat merupakan salah satu karunia yang diberikan Allah kepada seluruh hambanya, masing-masing orang mempunyai bakat ataupun kemampuan yang berbeda. Bakat (aptitude) mengandung makna kemampuan bawaan yang merupakan potensi ( potential ability ) yang masih perlu dikembangan atau dilatih agar dapat terwujud. Bakat berbeda dengan kemampuan (ability) yang mengandung makna sebagai daya untuk melakukan sesuatu, sebagai hasil dari pembawaan dan latihan. Bakat juga berbada dengan kapasitas (capacity) dengan sinonimnya, yaitu kemampuan yang dapat dikembangkan di masa yang akan datang apabila latihan dilakukan secara optimal.[2]
Jadi, yang disebut bakat adalah kemampuan alamiah untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan, baik yang bersifat umum maupun yang bersifat khusus.[3]Bakat umum apabila kemampuan yang berupa potensi tersebut bersifat umum. Misalnya bakat intelektual secara umum, sedangkan bakat khusus apabila kemampuan bersifat khusus. Misalnya bakat akademik, social, dan seni kinestetik. Bakat khusus biasanya disebut talent sedangkan bakat umum (intelektual) biasanya disebut gifted .
Pengertian bakat menurut para pakar:
1.      Crow  : Bakat merupakan kualitas yang dimiliki  oleh semua orang dalam tingkat yang beragam.
  1. William B. Michael : bakat adalah kapasitas seseorang dalam melakukan tugas, yang dedikit sekali dipengaruhi atau tergantung dari latihan.
  2. Brigham : Bakat kondisi, kualitas, atau sekumpulan kualitas yang dititik beratkan pada apa yang dapat dilakukan individu (segi performance/kinerja) setelah individu mendapat latihan.
  3. Woodworth dan Marquis : bakat adalah prestasi yang dapat diramalkan dan dapat diukur melalui tes khusus.
  4. Guilford : bakat adalah kemampuan kinerja yang mencakup dimensi perseptual, dimensi psikomotor, dan dimensi intelektual.    
Guilford juga memberikan defnisi tersendri mengenai bakat, yang menyatakan bahwa” Aptitude pertains to abilities to perform. There are actually as many abilities as there are actions to be performed, bence traits of this kind are very numerous” Guilford mengemukakan bahwa bakat (aptitude) mencakup 3 dimensi psikologis, yaitu: Dimensi perseptual, dimensi psikomotor, dimensi intelektual.
1.      Dimensi perseptual
Dimensi perseptual meliputi kemampuan dalam mengadakan persepsi, yaitu faktor-faktor yang antara lain berupa: kepekaan indera, perhatian, orientasi ruang, orientasi waktu, luasnya daerah persepsi, kecepatan persepsi dan lain sebagainya.
2.      Dimensi psikomotor
Dimensi psikomotor mencakup 6 faktor, yaitu: faktor kekuatan, faktor impuls, faktor kecepatan gerak, faktor ketelitian, faktor koordinasi dan faktor keluwesan (flexibility).
3.      Dimensi intelekual
Dari ketiga dimensi, dimensi inilah yang mempunyai implikasi yang sangat luas. Dimensi ini meliputi lima faktor yaitu:
a.       Faktor ingatan, yang mencakup: Faktor ingatan mengenai substansi, faktor ingatan mengenai relasi, faktor ingatan mengenai sistem.
b.      Faktor pengenalan, yang mencakup: pengenalan terhadap keseluruhan infomasi, golongan (kelas), hubungan-hubungan, bentuk atau strktur, dan kesimpulan.
c.       Faktor Evaluatif, yang mencakup: Evaluasi mengenai identitas, relasi-relasi, sistem dan evaluasi terhadap penting tidaknya problem ( kepekaan terhadap problem yang dihadapi).
d.      Faktor berfikir divergen, yang meliputi: faktor untuk menghasilkan unit-unit, faktor untuk pengalihan kelas-kelas secara spontan, faktor kelancaran dalam menghasilkan hubungan-hubungan, faktor untuk menghasilkan sistem, fakto untuk transformasi divergen, faktor untuk menyusun bagian-bagian menjadi garis besar atau kerangka.[4]
Menampilkan bakat dibutuhkan motivasi kuat yang disebut minat, yakni kebebasan seseorang memilih segala sesuatu yang disukai, disenangi dan ingin dilakukan.Seorang pakar, (Gardner) mengganti istilah bakat dengan “ kecerdasan “ yang berupa kecerdasan umum maupun kecerdasan khusus. Sedikitnya ada sembilan kecerdasan atau bakat yang mungkin dimiliki seseorang, yakni logical mathematical, linguistic/verbal, visual spatial, musical, bodily-kinesthetic, interpersonal, intrapersonal, natural, dan moral/ spiritual. Teori Gardner ini menjadi pegangan bahwa setiap orang memiliki bakat unik dan berbeda. Orang tidak dapat dipaksa berprestasi di luar bakat bakat khusus yang dimilikinya .

2.2 Jenis-Jenis Bakat
Bakat merupakan suatu kondisi atau suatu kulaitas yang dimiliki individu yang memungkinkan individu itu untuk berkembang pada masa mendatang. Bakat juga berarti  kemampuan bawaan berupa potensi khusus dan jika memperoleh kesempatan berkembang dengan baik, akan muncul sebagai kemampuan khusus dalam bidang tertentu sesuai potensinya .
mengklasifikasikan jenis-jenis bakat khusus, baik yang masih berupa potensi maupun yang sudah terwujud menjadi lima bidang,yaitu:
1. Bakat akademik khusus, misalnya bakat untuk memahami konsep yang berkaitan dengan angka-angka (numeric), logika bahasa (verbal), dan sejenisnya.
2.  Bakat kreatif – produktif, artinya bakat dalam hal menciptakan sesuatu yang baru, misalnya menghasilkan program komputer terbaru, arsitektur terbaru, dan sejenisnya
3. Bakat seni, misalnya mampu mengaransemen musik yang digemari banyak orang, menciptakan lagu dalam waktu yang singkat, dan mampu melukis dengan indah dalam waktu yang relatif singkat
4.  Bakat psikomotorik, antara lain sepak bola dan bulu tangkis                            
5. Bakat sosial, antara lain mahir melakukan negosiasi, menawarkan suatu produk, berkomunikasi dalam organisasi, dan mahir dalam kepemimpinan.

Sehubungan dengan cara berfungsinya ,ada dua jenis bakat yaitu :
·         Kemampuan pada bidang khusus ( talent ) seperti pada bakat music , bakat menari , olah raga dan lain – lain
·         Bakat khusus yang dibutuhkan sebagai perantara untuk merealisir kemampuan khusus misalnya bakat melihat ruang (dimensi) dibutuhkan untuk merealisasi kemampuan di bidang teknik arsitek.
Menurut Yoesoef Noesyirwan, bakat atau kemampuan menurut fungsi atau aspkek” yang terlibat dan menurut prestasinya. Berdasarkan fungsi atau aspek jiwa raga yang terlihat dalam berbagai macam prestasi, bakat dapat dibedakan dalam:
a.       Bakat yang lebih berdasarkan psikofisik
Bakat jenis ini adalah kemampuan yang berakar pada jasmaniah sebagai dasar dan fundamen bakat, sepert kemampuan pengindraan, ketangkasan, kemampuan motorik, kekuatan badan dan anggota badan lainnya.
b.      Bakat kejiwaan yang bersifat umum
Bakat jenis ini ialah kemampuan ingatan daya khayal atau imajinasi dan intelegensi.
c.       Bakat-bakat kejiwaan yang khas dan majemuk
Bakat ini berhubungan erat dengan  watak, seperti kemampuan untuk mengadakan kontrak sosial, kemampuan mengasihi, kemampuan perasaan atau menghayati perasaan orang lain.[5]
Bakat bukanlah merupakan sifat tunggal, melainkan merupakan sekelompok sifat yang secara bertingkat membentuk (bakat). Misalnya dalam bakat musik terdapat kemampuan membedakan nada, kepekaan akan keserasian suara, kepekaan akan irama dan nada. Bakat baru muncul atau teraktualisasi bila ada kesempatan untuk berkembang atau dikembangkan, sehingga mungkin saja terjadi seseorang tidak mengetahui dan tidak mengembangkan bakatnya sehingga tetap merupakan kemampuan yang latent

2.3. Mengukur Bakat Anak
Pengukuran bakat pada anak tidak bisa dilakukan jika masing-masing anak tesebut tidak mengetahui bakatnya  dalam bidang apa, untuk itu ada beberapa  cara mengidentifikasi    Bakat
            a.         Dengan tes bakat (aptitude test)
            b.         Dengan observasi terhadap minat
Seseorang yang punya bakat dlm bidang tertentu mempunyai minat yang kuat dalam bidang tersebut.
            c.         Dengan pengalaman atau latihan
Seseorang yang punya bakat dalam bidang    musik ketika dirinya diberi kesempatan             untuk  belajar bermain musik cenderung menampakkan hasil.
. Menurut Indah Mulatsih,( LIMA LANGKAH MUDAH MENCARI BAKAT DIRI), ada 5 cara mudah untuk menemukan bakat yang tersembunyi:
1.      Dengarkan orang lain
 “Gajah di pelupuk mata tidak kelihatan, kuman di seberang lautan kelihatan”. Ungkapan yang sama juga berlaku dalam melihat bakat tersembunyi. Dibandingkan diri sendiri, orang lain seringkali jauh lebih tahu dibandingkan diri sendiri.  Besar kemungkinannya orang lain sudah pernah (bahkan berkali-kali) mengatakan bahwa anda sangat menguasai bidang tertentu. Hanya saja selama ini mungkin anda mengabaikannya tidak menganggap serius. Sekarang saatnya mulai mendengarkan.
2.      Temukan sesuatu yang sangat mudah dilakukan
Suatu saat mungkin anda melihat seseorang (dengan jenis kelamin dan usia yang sama) begitu kesulitan melakukan sesuatu, tetapi anda bisa melakukan aktifitas yang sama dengan super mudah. Lain waktu, anda menemukan orang lain perlu ambil kursus atau sekolah khusus untuk melakukan sesuatu tetapi anda bisa melakukan hal yang sama dengan sangat mudah tanpa kursus atau sekolah khusus. Berarti aktifitas tersebut adalah bakat tersembunyi anda.
3.      Temukan sesuatu yang paling anda nikmati  
Bakat tersembunyi sering kali menunjukan dirinya sendiri ke permukaan. Adakah majalah untuk topik (atau komunitas penghobi) tertentu yang tidak bisa anda lewatkan? Atau suatu aktifitas yang sangat ingin anda lakukan tetapi selama ini tidak karena keterbatasan tertentu (waktu/biaya/alat). Besar kemungkinan aktifitas tersebut adalah bakat tersembunyi anda. Tidak ada jaminan pasti bahwa setiap yang anda sukai merupakan bakat tersembunyi anda, tetapi kerap ada diantaranya.
4.      Temukan sesuatu yang sering anda bicarakan
 Adakah topic tertentu yang anda sadari atau tidak, selalu menjadi topik anda? Suatu ketika mungkin anda membicarakan topik lain, tetapi ujung-ujungnya lari ke topik yang biasa anda bicarakan lagi. Bisa jadi aktifitas yang ada dalam topik tersebut adalah bakat tersembunyi anda, atau setidaknya terkait.
5.      Tanyakan pada orang lain
Dalam banyak hal, cara termudah dan tercepat untuk mengetahui sesuatu adalah dengan bertanya. Tanya pada siapapun yang anda pikir bisa dan bersedia memberikan penilaian yang obyektif. Tidak selalu orang terdekat [pacar/pasanga], bisa jadi mereka justru paling tidak obyektif. Minta mereka mengabaikan kebiasaan-kebiasaan buruk anda, yang anda butuhkan hanya kelebihan anda (anda tidak sedang merenungi hidup, tetapi menggali bakat tersembunyi). Sebisa mungkin usahakan dengan pertanyaan langsung “menurut kamu, apa bakat aku?”. Tanyai mereka secara terpisah, catat. Setelah semua jawaban terkumpul, perhatikan sesuatu yang paling sering disebutkan (oleh orang berbeda). Jika jumlah orang yang anda tanya cukup banyak, saya yakin pasti ada sesuatu yang sering disebutkan. Anda boleh tersenyum, karena 90% itu adalah bakat tersembunyi anda.
Setelah menegetahui bakat yang dimiliki oleh anak, kita bisa mengukur sampai sejauh mana tingkat perkembangan anak pada bakat yang dimilikinya. Menurut piaget dalam buku psikologi remaja, Perkembangan intelegensi anak mengikuti tahapan sebagai berikut :
1.      Masa sensori motorik ( 0 – 2,5 tahun )                                                
Tahap pertama bagi perkembangan intelegensi seorang anak di mulai sejak ia berusia 0 – 2,5 tahun. Masa ini merupakan tahapan untukmengenal lingkungan sehingga atas rangsangan yang ia terima dalam bentuk refleks .
2.      Masa pra – operasional
Pada tahap ke dua dari perkembangan intelegensi anak yang berlangsung sejak anak menginjak usia  2 – 7 tahun,anak mulai mampu menggunakan symbol yang mewakili suatu konsep , sehingga ia cenderung mempraktekan apa yang pernah dilihatnya.
3.      Masa konkrit operasional
Pada tahap ini anak –anak sudah dapat melakukan berbagai macam tugas. Kemampuan ini diperoleh oleh anak sejak berusia 7-11 tahun . anak mulai mengembangkan kemampuan berpikir ,yaitu mengenali sesuatu, mengingkari sesuatu, dan mencari hubungan timbal balik antara beberapa hal.
4.      Masa operasional
Ketika anak sudah menginjak usia diatas 11 tahun hingga menjadi dewasa, anak sudah mulai mampu berpikir secara abstrak  dan hipotesis. Anak sudah bias memperkirakan apa yang mungkin terjadi serta dapat menarik suatu kesimpulan.
Selain itu bisa juga menggunakan Tes Intelegensi:
 Tes intelegensi dikembangkan oleh ahli ilmuwan jiwa asal perancis, Alfred Binet. Kemudian tes tersebut disempurnakan oleh Theodore Simon, sehingga tes intelegensi pada saat itu dikenal dengan istilah tes Binet Simon.[6] Selanjutnya, hasil tes intelegensi dinyatakan dalam angka. Angka tersebut menggambarkan hasil perbandingan antara kecerdasan dengan umur kalender. Rumus untuk pengukuran intelegensi ini dikemukakan oleh Williem Stern, seorang psikolog asal jerman yang dikenal dengan istilah  intelligence Quotient dan sering disingkat dengan IQ. Rumus intelegensi tersebut adalah sebagai berikut:
IQ= MA/CA X 100
Keterangan:
IQ = intelligence Quotient (perbandingan kecerdasan)
MA = mental age (umur kemampuan mental/kecerdasan)
CA = choronological Age (umur kalender)

2.4 Mengoptimalkan bakat anak
Usia remaja adalah masa perkembangan yang ditandai dengan solidaritas tinggi terhadap teman-teman sebayanya. Remaja yang kurang memahami siapa dirinya, memiliki kebutuhan yang besar untuk berada dan diakui dalam kelompoknya. Hal ini seringkali membuat remaja mengikuti minat temannya, memilih bidang yang sebenarnya kurang sesuai dengan bakat serta minat pribadinya. Untuk memilih bidang-bidang yang akan dikembangkannya, remaja perlu berdiskusi, mencari masukan dan bertukar pikiran dengan orang tuanya.
            Apa yang bisa orang tua lakukan dirumah :
o   Patoklah prestasi akademis yang tinggi namun realistis buat anak .
o   Tanamkanlah rasa optimis kepada mereka bahwa mereka bisa mencapainya.
o   Bicara dan bermain dengan anak, untuk meningkatkan kemampuan komunikasi.
o   Berceritalah mengenai berbagai peristiwa yang sedang terjadi, apa saja yang terjadi di lingkungan sekitar. Saat berbicara mengenai rutinitas harian Anda, jelaskan apa yang Anda lakukan dan mengapa. Doronglah anak untuk bertanya untuk Anda jawab, atau bisa juga bantu dia untuk menjawabnya sendiri.
o   Perhatikan apa yang mereka suka lakukan, seperti hobi menggambar, melukis, atau menggunakan angka-angka. Bantu mereka mengembangkan kesukaan itu, dan cari tahu bagaimana mereka bisa mengikuti lomba di lingkungan sekitar atau di tingkat kota.
o    Bawa anak ke tempat-tempat dimana mereka bisa mempelajari hal baru, seperti pentas musik, museum atau galeri seni.
o  Cari anggota keluarga yang bisa menjadi mentor membantu anak mengembangkan bakat mereka.
Hal-hal yang dapat dilakukan untuk mengembangkan kreativitas dan bakat                              
a. Menciptakan lingkungan yang merangsang kreativitas
Mengembangkan rasa ingin tahu peserta didik dengan mengenalkannya pada berbagai hal atau kegiatan, misalnya dengan melakukan eksprerimen sederhana, membuat kreasi, atau mengunjungi museum.
b. Melibatkan anak dalam kegiatan curah ide (brainstorming)
Meminta peserta didik untuk  melontarkan beragam ide dalam kelompok, dan kemudian membahas ide-ide yang dilontarkan. Semakin banyak ide yang dihasilkan, semakin besar kemungkinkan munculnya ide-ide yang unik.
c. Memberikan kesempatan untuk bereksplorasi dan mencoba
Memberikan peserta didik kebebasan untuk melakukan eksplorasi, menemukan hal-hal baru, dan sesekali membuat kesalahan sehingga ia dapat belajar menelaah berbagai sudut pandang untuk memecahkan persoalan.
d. Memunculkan motivasi internal
Menghargai setiap ide maupun karya yang dihasilkan peserta didk secara proporsional. Menghindari memberi kritik yang dapat menimbulkan kekecewaan pada peserta didik. Menghindari juga memberi pujian secara berlebihan. Hendaknya, tidak selalu menghadapkan peserta didik pada situasi yang kompetitif.
e. Mengembangkan cara berpikir yang fleksibel dan playful
Melatih peserta didik untuk menelaah berbagai sudut pandang dalam menghadapi persoalan.
f. Mengenalkan anak dengan orang-orang yang kreatif
Mengenalkan peserta didik pada seseorang yang memiliki suatu karya dan diskusikan mengenai kemampuannya. Pendidik  juga dapat merancang suatu kegiatan di sekolah, misalnya dengan mengundang ahli dalam bidang tertentu untuk berbagi pengalaman.
Untuk mengembangkan bakat dan minat peserta didik, diperlukan beberapa faktor berikut :
1. Stimulasi
Faktor stimulan bakat dan minat bisa internal atau eksternal. Stimulan yang utama ialah kesadaran akan potensi diri, belajar dan terus belajar, konsentrasi dan fokus dengan kemampuan atau kelebihan diri kita. Jangan selalu melihat kepada kelemahan, karena waktu kita akan terbuang, sehingga bakat pun ikut terpendam dan minat jadi berkurang.
2. Berusaha untuk Kreatif
Berusaha kreatif dengan mencari inspirasi dari mana saja, kapan saja,dan dari siapa saja. Kreativitas akan menuntun jalan kita menuju pengenalan dan pemahaman bakat, menumbuh kembangkan minat, sehingga kita dapat mengembangkannya agar bermanfaat untuk hidup kita.
3. Pelihara Kejujuran dan Ketulusan.
Kita harus jujur mengakui bakat yang kita miliki sekalipun tidak begitu kita minati. Ketulusan menyukuri bakat dapat menumbuhkan minat meskipun perlu proses dan waktu. Bakat alami itu akan tetap ada, bisa dikembangkan dan dimanfaatkan dengan meningkatkan kekuatan minat. Misalnya, kita semua bisa menulis, bakat yang bisa menghasilkan tulisan yang lebih baik daripada orang lain. Ketika bakat itu disertai dengan minat yang kuat, maka bakat itu akan berkembang lebih pesat dan berkualitas. Bakat itu akan mengundang kerinduan untuk melakukannya kembali, seperti energi yang mensuplai kebutuhan.
Selain paparan diatas ada hal yang tidak bisa dipisahkan dalam mengoptimalkan bakat, yaitu Otak. Ada tiga tingkatan otak, yaitu otak reptile, otak mamalia dan otak neo cortex. Otak reptil berfungsi sebagai pusat kendali, sistem saraf otonomi dan untuk mengatur fungsi utama tubuh seperti pernapasan dan denyut jantung. Selain itu, otak reptil berfungsi mengatur reaksi seseorang terhadap bahaya atau ancaman dengan cara lari atau melawan. Dari otak reptil berkembang menjadi otak mamalia. Otak ini berperan dalam mengatur kebutuhan strata social, rasa memiliki atau memberikan emosi pada suatu kejadian, mengendalikan sistem kekebalan tubuh, hormon dan memori jangka panjang. Jika dihubungkan dengan memori jangka panjang maka otak ini sangat berpengaruh dalam pembelajaran. Dalam otak mamalia terdapat sistem limbic yang berfungsi sebagai saklar yang menentukan otak mana yang lebih aktif, apakah otak reptil atau otak neo cortex. Jika otak reptil yang lebih aktif maka seseorang akan cenderung bersifat marah, takut, tegang, dan stress. Jika otak neo cortex yang lebih aktif maka seseorang cenderung bahagia, tenang, dan rilex. Otak neo cortex memiliki fungsi untuk mengendalikan penglihatan, pendengaran, kreasi, berpikir, berbicara, dan semua hal yang berkaitan dengan kemampuan yang lebih tinggi atau intelegensi, mengendalikan nafsu dan emosi. Otak neo cortex menutupi otak reptil dan otak mamalia. Otak reptil disebut juga dengan otak yang berfikir.
Struktur otak berhubungan dengan keberbakatan. Keberbakatan adalah kemampuan individu yang perlu dikembangkan dan diperhatikan yang terkait dengan struktur otak. Secara genetik struktur otak sudah terbentuk sejak lahir tapi berfungsinya otak ditentukan oleh cara seseorang dalam beriteraksi dengan lingkungannya. Nah disinilah bakat bisa dikembangkan dalam pembelajaran. Jadi, guru harus memperhatikan dan perduli pada peserta didiknya yang sejatinya memiliki bakat masing-masing. Anak yang berbakat akan terlihat lebih menonjol dan anak tersebut cenderung lebih kreatif. Keberbakatan anak dipengaruhi oleh beberapa hal diantaranya yang paling menonjol adalah gen dan lingkungan. Gen mempengaruhi sebanyak 60% dan sisanya adalah lingkungan. Anak dapat mengoptimalkan bakat yang dimilikinya (gen) jika berada dalam lingkungan yang tepat/mendukung. Ada gen tapi lingkungan tidak mendukung, tidak akan bisa. Dan pada hakikatnya semua anak itu berbakat, hanya saja bakatnya berbeda-beda. Untuk itu tugas guru sekarang adalah bagaimana caranya menciptakan kondisi/lingkungan belajar yang dapat mendukung siswa dalam mengoptimalkan bakatnya. Salah satu caranya adalah dengan cara memahami bagian-bagian otak serta aktivasinya karena berkaitan dengan keberbakatan para siswa, sehingga nantinya guru dapat membuat rencana-rencana pembelajaran yang dapat mengembangkan, mengaktifkan dan mengoptimalkan bakat siswa.
2.5  Analisis kasus
Dari hasil pemeriksaan psikologis ternyata taraf kecerdasan Fai tergolong cukup tinggi. Kemampuan menggunakan koordinasi psikomotorik berkembang lebih baik dari pada penalaran verbalnya. Ia cukup menguasai dasar-dasar skolastik pada umur empat tahun yang diperlukannya  sebagai persiapan masuk kelas satu SD. Namun, kemampuannya berpikir kreatif kurang menonjol, sesuatau hal yang dapat dipahami, pertama karena kondisi sosial-ekonomi yang kurang menunjang dari keluarga ini sehingga orangtuanya tidak dapat mengikutsertakan Fai pada berbagai kegiatan kreativitas yangditawarkan disekolah karena tidak mampu membiayainya. Fai hanya ikut kegiatan pramuka. Kedua, orang tua Fai agaknya lebih mementingkan perkembangan skolastik, seperti menghafal, membaca, menulis dan berhitung, pada usia dimana sebetulnya justru perkembangan imajinasi dan kreativiitas penting.
Mereka melakukan tugas sebagai orang tua dengan penuh tanggung jawab sesuai dengan kemampuan mereka. Baik ayah maupun ibu memberikan banyak perhatian dan waktu untuk pendidikan Fai, tetapi dengna kondisi ekonomi dan tingkat pendidikan mereka yang terbatas, mereka tidak dapat memenuhi semua kebutuhan pendidikan Fai. Mereka masih kurang memahami cara-cara mengasuh dan mendidik anak yang memupuk pengembangan bakat dan kreativitas anak seperti tampak dari kecenderungan untuk terutama melatih ingatan mekanis anak (menghafal hal-hal yang tidak berarti dalam kehidupan Fai) dari pada merangsang daya nalar dan daya piker kreatif anak.
Timbul pertanyaan: betulkah Fai seorang anak “genius”? Jawabannya bergantung pada bagaimana konsep tentang “kegeniusan”. Jika yang diartikan dengan “genius” semata-mata anak yang mempunyai tingkat kecerdasan sangat tinggi ( batasan menurut Terman adalah IQ diatas 140), maka mungkin saja Fai dapat digolongkan sebagai genius bila melihat salah satu hasil pemeriksaan psikologis. Namun, menurut pemeriksaan psikologis yang lain, IQ Fai hanya tergolong superior. Hal ini mungkin saja karena hasil pemeriksaan psikologis pada usia semuda Fai masih dapat berfluktuasi, bergantung pada kondisi anak dan kondisi pengetahuan.
Saat ini Faiduduk di kelas anak berbakat disekolah swasta; ia mendapat bantuan dalam biaya pendidikan. Mula-mula Fai duduk di kelas satu biasa; pada caturwulan pertama ia mencapai peringkat tertinggi dari 33 siswa, karena itu ia dipindahkan ke kelas anak berbakat. Di sini pada caturwulan kedua ia termasuk peringkat ketiga dari delapan anak berbakat. Sungguh prestasi tersendiri mengingat kondisi ekonomi dan tingkat pendidikan orangtuanya yang kurang menunjang. Yang perlu lebih diperhatikan oleh orangtuanya adalah keseimbangan dalam perkembangan fisik, sosial emosional dan intelektual, teutama perkembangan kreativitasnya.[7]   






















BAB 111
PENUTUP
3.1  Kesimpulan
1.      Bakat (aptitude) mengandung makna kemampuan bawaan yang merupakan potensi  (potential ability ) yang masih perlu dikembangkan atau dilatih agar dapat terwujud.
2.      Guilford mengemukakan bahwa bakat (aptitude) mencakup 3 dimensi psikologis, yaitu: Dimensi perseptual, dimensi psikomotor, dimensi intelektual.
3.      Ada 5 bakat, baik yang masih berupa potensi maupun yang sudah terwujud,yaitu:
a Bakat akademik khusus, misalnya bakat untuk memahami konsep yang berkaitan dengan angka-angka (numeric), logika bahasa (verbal), dan sejenisnya.
b. Bakat kreatif – produktif, artinya bakat dalam hal menciptakan sesuatu yang baru, misalnya menghasilkan program komputer terbaru, arsitektur terbaru, dan sejenisnya
c. Bakat seni, misalnya mampu mengaransemen musik yang digemari banyak orang, menciptakan lagu dalam waktu yang singkat, dan mampu melukis dengan indah dalam waktu yang relatif singkat
d. Bakat psikomotorik, antara lain sepak bola dan bulu tangkis         
e. Bakat sosial, antara lain mahir melakukan negosiasi, menawarkan suatu produk, berkomunikasi dalam organisasi, dan mahir dalam kepemimpinan.
4.      Menurut piaget dalam buku psikologi remaja, Perkembangan intelegensi anak mengikuti tahapan sebagai berikut :
* Masa sensori motorik ( 0 – 2,5 tahun )
                        *Masa pra – operasional
                        *Masa konkrit operasional
                        *Masa operasional
5.      Keberbakatan anak dipengaruhi oleh beberapa hal diantaranya yang paling menonjol adalah gen dan lingkungan. Gen mempengaruhi sebanyak 60% dan sisanya adalah lingkungan.

3.2  Saran
Dalam makalah ini kami membahas tentang Bakat. Dan dengan adanya makalah ini kami berharap agar semua mahasiswa mampu menguasai materi tentang bakat. Sehingga para mahasiswa tidak salah mengartikan antara bakat,minat dan lain sebagainya.kami sebagai penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi kesempurnaan  makalah ini.
3.3  Solusi
Sebagai pengajar, baik di tingkat SD, SMP, SMA maupun di perguruan tinggi seharusnya para pengajar harus bisa mengetahui peserta didik sesuai bakatnya. Sehingga proses pembelajaran bisa berjalan dengan lancar, sesuai yang diinginkan. Apabila ada peserta didik yang belum mengetahui bakatnya maka seorang pengajar bisa melakukan tes, yang mana dengan tes tersebut pengajar bisa mengklasifikasikan bakat para peserta didiknya.




























DAFTAR PUSTAKA
Sunyabrata, sumadi. 2008. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Sukardi, dewa ketut.2003. Analisis tes psikologis. Jakarta: PT Rineka Cipta
Sobur, alex.2003.  Psikologi umum. Bandung: pustaka setia
Munandar, utami. 2002. Kreatifitas dan keberbakatan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka utama
Semiawan,C;Munandar,A,S;Munandar,S.C.U,1984.Memupuk Bakat dan Kreativitas siswa sekolah menengah. Jakarta: PT Gramedia



[1] Utami Munandar. Kreatifitas dan keberbakatan,  (jakarta, gramedia pustaka utama,2002), halaman 128.

[2] Alex sobur, Psikologi umum dalam lintas sejarah, (bandung, pustaka setia, 2003), halaman: 181.
[3] Semiawan,C;Munandar,A,S;Munandar,S.C.U,.Memupuk Bakat dan Kreativitas siswa sekolah menengah. (Jakarta, PT Gramedia, 1984) halaman 43

[4] Sumadi Sunyabrata, Psikologi Pendidikan, (jakarta, Raja Gravindo, 2008), halaman:165
[5] Alex sobur, Psikologi umum dalam lintas sejarah, (bandung, pustaka setia, 2003), halaman: 191.
[6] Dewa ketut Sukardi. Analisis tes psikologis. (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2003), halaman:14

[7] Utami Munandar. Kreatifitas dan keberbakatan,  (jakarta, gramedia pustaka utama,2002), halaman 129.

Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar